Life is short. Dulu, waktu kecil di jalan Hangtuah, saya sudah senang membaca. Apa saja. Koran Kompas yang datang selalu tengah hari. Atau membaca cerita Lima Sekawan. Atau juga kadang membaca cerita komik silat. Dari banyak membaca, saya jadi senang menyendiri. Membuat cerita sendiri. Saya sering berkurung dikamar sendiri. Untungnya mami gak pernah protes. Soalnya setiap terima raport, beliau senang karena saya selalu juara kelas. Apalagi saya senang mengaji dengan alunan suara yang bak bukuh perindu. Hmm, apa ya buluh perindu itu?

Dulu, setiap magrib saya selalu sholat di mesjid parak karambia, dan biasanya kalau ada pengajian, saya gak pulang sekalian menunggu sholat Isya. Dan mami gak pernah marah. Pasti lah ya..siapa yang mau marah kalau anaknya rajin sholat. Pulang sholat, biasanya saya masih meneruskan ngaji sendiri. Belajar? Gak pernah, kecuali mau ulangan.

Dalam kesendirian itu, saya malah nggak tahu mikirin apa. Banyak sekali pikiran yang bersliweran di benak donny kecil. Terlalu banyak malah. Dalam sendirian. Papi waktu itu sudah tidak ada. Meninggal waktu saya 3 tahun. Wajah papi pun saya gak ingat.

Apakah saya sedih waktu itu? Gak juga. Ada yang bilang anak yang tumbuh tanpa kehadiran sang Ayah akan mudah depresi, kurang percaya diri, prestasi disekolah merosot, bermasalah dengan kesehatan seksual, kurang bertanggun jawab, bla bla bla. Saya gak setuju. Saya gak masalah disekolah. Saya juara kelas. Saya rajin sholat dan ngaji. Masalah seks, bah apa pula itu… :). Kurang bertanggung jawab? Sembarangan sampeyan… 🙂

Saya sendiri gak tahu apakah ada bedanya punya ayah atau tidak? Atau apakah punya ayah akan bikin hidup saya lebih baik dari sekarang? I have no idea.

Do I miss my father? I don’t know. I don’t have any memory with him. So, what is my feeling toward him? I don’t know. Yang ada cuma perasaan heran dan sedikit marah, kenapa papi pergi duluan. That’s all.

Karena mami single parent, saya cuma taunya feeling sama mami saja. Feling sayang, feeling marah kalau diomelin, atau feeling takut kehilangan mami. Sejak kecil sampai SMP, saya tidur sama mami. Saking takut nya kehilangan mami, ketika terbangun tengah malam, saya perhatikan apakah mami ada disamping saya, dan apakah mami masih hidup atau mesih bernafas dengan memperhatikan perut mami; bergerak apa tidak. Maybe because I don’t want to loose mami which will make me parentless, which I hate it very much.

Sekarang, saat saya sudah menjadi seorang ayah, sering saya perhatikan anak anak saya. Do they need me? What if I die tomorrow? Will they remember me? Will they survive? Will my wife survive without me?

Ketika saya ngaji bareng sama anak anak tiap hari, saya kadang terbayang waktu saya ngaji dulu waktu kecil, sendirian. Apakah mereka akan tetap ngaji kalau saya tidak ada? Bah. Gak usah terlalu jauh lah mikirnya kawan.

Tapi mau tak mau saya mikir kesana juga. What if I die tomorrow?

Saya suka bilang sama istri, bahwa kalau bisa saya meninggal kalau anak anak sudah lulus kuliah. Kenapa? Agar saya bisa menyiapkan mereka, baik dari sisi pendidikan umum, maupun terutama pendidikan agama mereka. Secapek apapun pulang kerja, selalu saya sediakan waktu buat ngobrol sama mereka, ngajak mereka ke mesjid, ngajar mengaji.

Kalau sudah begitu, I am ready.

For me, life is short.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.