My Story

Confidence. Huh?

Semalam saya diundang pada sebuah acara Celebration di kantor. Katanya mau merayakan keberhasilan team kita menyelesaikan target Well Tie-In, yang artinya juga kita bisa memberikan pemasukan bagi company. I am talking about Hundreds of Million Dollars. Sebenarnya saya gak mau datang. Paling acara nya makan-makan, ngobrol sana sini. Tapi bos sorenya nelpon minta saya datang. Awalnya saya gak mau. Tapi dia maksa. Ok lah.

Ternyata saya dipanggil ke depan untuk menerima “certificate of appreciation for the accomplishment and achievement for 2018 projects goal”. Seperti biasa, nice words pouring on me from the boss. Hmmm. nice surprise, but doesn’t surprise me that much. Mungkin sudah terbiasa dapat certificate kali….ah gaya nya…

Seriously, saya selalu men-challenge diri saya tiap tahun. I always raise my bar, my standard. I don’t accept mediocre. For everything in my life. But at the same time, I always want to enjoy myself. Balance, they call it.

Confidence, huh?

Dulu sih gak begitu. Saya agak penakut dan kurang percaya diri alias kurang PD. Hanya satu yang bisa bikin saya PD, yaitu kemampuan dan semangat belajar saya yang tinggi. Saya merasa saya anak pintar šŸ™‚ . Soalnya IQ saya lumayan lah, 120, gak jelek jelek amat. Tapi, kalau sudah menemukan sesuatu yang saya suka, saya akan menekuni sampai butek. Karena kurang PD itu lah saya lebih banyak diam, sendiri. Baca buku. Makanya dulu nilai nya bagus bagus semua waktu SD sampai SMA. Kadang pernah mencoba baca majalah bahasa Inggris. Tapi gak pernah selesai bacanya, soalnya lebih sering lihat kamus dari pada baca nya. Bosen nyari artinya di kamus.

Baru pada saat mulai kerja di IKPT, sedikit timbul percaya diri, terutama karena sering dan berani ngomong sama expat Amerika, sementara temen yang lain gak berani. Setahun kemudian dikirim ke Gresik. Petrochemical Construction. Arena yang keras menurut saya, apalagi daerahnya sama sekali baru buat saya. Rasanya seperti bangun tidur di tengah rimba belantara. Sendirian. Gak kenal siapa-siapa. Tapi entah kenapa, waktu itu saya gak peduli. Saya percaya dengan kemampuan teknis saya. I believe I am smart guy. So, don’t mess up with me. You know, kind of arrogance, but in positive way. Paling tidak orang orang yang disekitar saya berpendapat seperti itu. Saya akui bergaul dan bekerja dengan “orang lapangan” serta melihat daerah yang baru, tanpa sengaja makin menempa diri saya. You build your confidence.

Pulang dari Gresik, setahun kemudian, saya dipilih untuk penugasan lagi. This time was much better. Way much better. Pergi ke Amerika bro. Not only Amerika, but to Los Angeles California. Wow. That was a big change from Gresik. The flew me business class with Garuda Indonesia. 1995. Saya masih ingat Garuda menggunakan pesawat baru MD-11, terbang dari Cengkareng ke Los Angeles via Honolulu.

Ada pengalaman lucu waktu saya mau check in di Cengkareng. Karena baru pertama kali ke luar negeri, ke Amerika pula. Dengan PD nya saya pun antri di jalur economi class. Panjang kali antriannya. Sampai pas giliran saya, si mas nya ngecek tiket saya. Jaman dulu kan belum ada tiket elektronik. Masih di Print di travel agent nya. Pas dia lihat, dia bilang sama saya. “Mas Donny, kenapa antri disini. Tiket mas kan Business. Disana tempatnya tuh, enak, nyaman dan gak perlu antri seperti disini.” Lah, saya kan bengong. Business Class? Kok saya gak tahu ya? Personalia juga gak bilang. Belum hilang bengong saya, si Mas nya malah teriak ketemennya di ujung sana: “Woi, ini ada penumpang bisnis nyasar disini nih” . Ah, orang orang yang antri jadi pada ngeliat. Senyum senyum saja mereka. Ah, malu lah awak kan. Tapi, dasar Donny, tenang saja dia bilang: “Sudahlah, disini aja check in nya. Sama saja kan” Ah. norak kali. Beda lah kawan Ekonomi sama Bisnis.

Dari terbang ke Los Angeles, karir saya terus bergulir. I work hard and smart. I build my expertise and my confidence at the same time. Next assignment to London in 1997. And then to Amsterdam, and then to Paris. Ondee, Sudah seperti agen rahasia saja layak nya. Akhirnya, setelah bosen tugas tugas terus, saya memutuskan untuk berhenti kerja, pindah ke Singapore dan akhirnya menetap di London. Permanently. Live happily ever after, bak Cinderella… šŸ™‚

So, I have been to so many places, from small city, to the jungle, in big city, see and dealing with so many different kind of people. Any skin colour. Any nationality. Now, I can say, they don’t scare me anymore. No place scare me. And you should no scare with anything in this world, just because you from Indonesia and have light brown skin colour. Never. Trust yourself. I always say that to my children: Nasha, Naufal and Nabiel: Study hard, Work hard. Always continuous improvement of your skill. And don’t forget Shalat and Reading Quran. You do that, you will get there. The place you dream. You will succeed, Insya Allah.

Categories: My Story

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.