Semuanya serasa mimpi bagi Dion. Serasa masih kemaren dia mendatangi rumah itu. Serasa masih kemaren dia gugup duduk di sofa ruang tamu rumah megah itu. Menunggu dia datang. Dan serasa mimpi melihat dia melangkah memasuki ruang tamu. Seketika dia ingat lagu Hello nya Lionel Richie. Lagu yang mengalun pelan ketika mereka sedang duduk berdua. Dalam diam. Sesekali mata bersirobok. Lebih banyak menunduk, tapi. Makanya setiap mendengar lagu itu, terbayang manis nya senyum Shinta, lembutnya tatapan matanya, ketika dia menyibakan rambut nya. Lagu yang setia menemani setiap malam menjelang tidur membayangkan semua keindahan bersamanya. Keindahan bisa menatap wajah manis nan lembut itu. Menatap mata bening itu. Merasakan mata mereka bersirobok. Tidak sekali. Tidak juga dua. Sepuluh kali dia hitung. Waktu itu. Waktu mereka masih berseragam putih abu-abu.

Sejak itu, ada yang berubah dalam keseharian Dion. Jadi lebih semangat ke sekolah. Jadi lebih semangat menunggu waktu istirahat. Waktu ke kantin. Dengan hanya satu harap: bisa ketemu Shinta, dan merasakan lembutnya tatapan matanya.

Seperti tadi siang. Shinta ke kantin bersama temen akrabnya. Mereka berpapasan. Tiga detik mereka bertatapan. Tak banyak kata.

“Halo Dion” sapa Shinta sambil duduk di sofa tepat didepan Dion. Dion makin salah tingkah. Agh. She just one meter right in front of me. Putih sekali pipinya, batinnya. Matanya itu lho, yang selalu bikin hatinya mendesah.

“Hi”. cuma itu yang bisa Dion ucapkan. Shinta tersenyum. Dion makin gugup. What’s wrong with me, keluh nya. Wajar saja sebenarnya. Ini lah pertama kali Dion berada sangat dekat dengan seorang cewek, apalagi cewek yang dia sudah lama perhatikan. Cewek yang lama hadir dibilik hatinya, yang tersimpan rapi. Bahkan temen deketnya di kelas pun tidak ada yang tau. Saking rapinya menyimpan rasa itu.

“Eh, kita belum kenalan kan?” ah bodoh sekali pertanyaan itu, umpatnya lagi dalam hati.

Shinta tersenyum lagi. “Sudah tahu. Dion kan?”

Ya. Dion diam lagi. Hatinya kian berdebar tak karuan.

Lima belas menit kemudian, dion sudah meluncur di jalan bersama motor kesayangannya. Senyum lepas dia.

Itu 7 tahun lalu. Pertama kali nya dia merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Dia enjoy every bit of that. Sejak itu dia semakin sering menunggu. Menunggu Shinta lewat didepan kelas nya. Dia sering duduk di bangku depan kelas. Hoping she will pass by. And he knows, Shinta will always try to look at him. Or find him. He knows that. He can feel that.

But, nothing happen after that.

Err, no. Something happened. Dion datang lagi kerumah Shinta. Kali ini Sabtu sore. Sudah rapi dia. Semua seperti sesuai rencananya. Cuma satu hal yang Dion lupa, atau alah terlalu PD. Gak ngasih tau Shinta kalau mau datang. Akibat nya, Shinta gak ada dirumah. Sabtu sore. Yang keluar cuma pembantu nya. Shinta keluar, katanya. When? Where? With whom? Mungkin dia pergi malam mingguan dengan cowoknya. Maybe. Million questions running in his mind. With no answer available. Tapi justru itu yang melemahkan dia.

That’s it. That’s the mistake he has ever made. Dion gak mau lagi datang. Mungkin karena setelah itu sudah mulai sibuk belajar. Atau mungkin juga Dion males aja. Mungkin juga dia merasa Shinta bukan kelas dia, She is not in my league. She is too beautiful to be my friend, let alone to be my girlfriend. Kesadaran itu yang membuat Dion jadi mundur teratur. Yang jelas Dion gak mau lagi mendatangi Shinta. Masih sering sih mereka bertatapan dari jauh. That’s all he can do. Yang jelas, Dion tidak punya semangat juang yang tinggi untuk mengejar dan mendapatkan kekasih pujaan hati nya.

Sampai kelas 3. Shinta makin cantik. Dia belum punya pacar, maybe. Why do I care?  Lagian Shinta juga gak peduli. She is not in your league, Dion. So, does not matter she has a boy friend or not, so just forget her. Then he tries to forget her. Try to remove her name. Sampai lulus SMA. Sampai kuliah. The more he tried to forget her, the more she come into his mind. Gak tau juga kenapa. Hal itu yang bikin Dion menyesal dikemudian hari. Penyesalan selalu datang terlambat ya? Kalau gak begitu, bukan nyesel Namanya Dion. Telat.

“Dion, udah sampai. Hayo mikirin siapa” Shinta menggoda Dion, membangunkan dia dari lamunan tentnag masa silam. Ah, pesawat sudah berhenti sempurna ternyata. Tak heran orang mulai pada berdiri untuk mengambil hand-lugage nya. Penerbangan siang ini memang penuh. Jadinya agak pelan untuk bisa keluar dari pesawat. Saat itu, Dion bisa memperhatikan Shinta dari dekat. Sangat dekat malah. Tak lebih 30 cm berdiri didepan dia. Pertama kali dalam sejarah hidunya bisa memperhatikan dan melihat seorang cewek dari dekat. Dan cewek itu bukan sembarang cewek lagi, itu Shinta. The most beautiful girl in the School.

Tiba tiba Shinta memutar menghadap dia. Hampir copot jantung Dion, takut ketahuan sedang memperhatikan pipinya dari dekat.

“Dion.” Shinta berbisik pelan.

“Ya” Dion menatap mata itu. “Ada apa Shinta?”

“Ada yang mau Shinta omongin. Besok Dion mau kemana? Kita ketemuan ya.”

Dion kaget. Apa yang mau diomongin. Dan kenapa gak disini saja diominginnya. Tapi Dion mengiyakan saja saat Shinta menyebut tempat ketemuan. Dion tau tempatnya.

Setelah mengambil koper, Bersama mereka berjalan keluar menuju ke area penjemputan. Disitu sudah menunggu mama dan papanya Shinta. Setelah mereka berpelukan dan saling melepas kangen. Shinta berbalik.

“Mama masih ingat Dion? Yang dulu datang ke rumah ?” Shinta coba memperkenalkan Dion dengan menyebut peristiwa 7 tahun lalu. Ah, mana ingat mamanya, batin Dion.

Mamanya berpaling. Menatap Dion. “Oh, iya. Mama ingat. Udah berubah ya.”

“Assalamu’alaikum Tante. Apa kabar?”, sapa Dion dengan sopan.

“Wa’alaikumsalam. Kabar baik.” Mamanya membalas dengan sopan. “Kerja dimana Dion sekarang?”

“Dion tinggal dan kerja di Inggris, Tante”.

“Wah hebat ya”.

Tak lama kemudian, kemudian mereka berpisah. Namun sebelum pisah, Dion sempat mendengar mamanya bicara pelan ke Shinta. “Kamu udah cerita sama Dion?” Shinta menggeleng. Agak mendung dilihatnya wajah Shinta.

Seribu pertanyaan berkecamuk di benak Dion mencoba menangkap arti dari pertanyaan mama nya Shinta. Pertanyaan yang tak ada jawaban sampai dia ketemu besok dengan Shinta ditempat yang sudah disepakati.

Siang itu, tepat pukul 2, Dion sudah berdiri didepan pintu masuk Kafe yang tidak cukup besar, namun elegan. Matanya mencari dan menemukan Shinta duduk di meja paling pojok. Dia sendirian. Namun Dion tadi sempat melihat mobil yang kemaren dipakai untuk menjemput Shinta di Airport, parkir di samping kafe.

Shinta berdiri ketika melihat Dion datang menghampiri meja nya. Dion melihat Shinta yang beda dengan kemaren. Tidak lagi ceria. Tidak lagi sumringah. Malah matanya seperti lembab, habis menangis sepertinya. Makin berkecamuk pikiran Dion. What is going on with her? And what is happening?

“Silahkan duduk Dion” bisik Shinta. Mencoba tersenyum. Tertahan.

“Terima kasih.” Dion duduk didepan Shinta. Dekat sekali. Beberapa saat mereka bertatapan dalam diam. Dikejauhan Ella mencoba bersikap wajar memperhatikan kakaknya yang akan menceritakan sesuatu. Something big.

“Dion. Ada yang ingin Shinta ceritakan. Dion tidak boleh marah. Tidak juga boleh sedih. Tidak boleh juga memotong cerita Shinta. Promise?” Shinta berbisik pelan, sambil memegang tangan Dion.

Dio makin blingsatan. Makin gak karuan. What is this? Batinnya. Dion Cuma menggangguk. Sambil tetap memegang tangan Dion, Shinta mulai bercerita. Kali ini ada ketegasan dalam raut wajahnya. Ketegasan dalam kesedihan. Dion bisa merasakan itu. Selama bercerita, tangan Shinta kadang meremas kencang tangan Dion, mencoba menenangkan cowok didepannya ini. Kadang dibelainya tangan itu ketika Dion tersentak sedih. Ketika Dion berusaha keras untuk tidak menangis, namun tanpa terasa meneteskan airmata. Remuk hati Shinta melihat cowok didepannya menangis bersedih.

Cowok yang pertama mengisi relung hatinya. Cowok yang pertama mengenalkan arti berdebar nan indah. Yang membuat dia tidak bisa tidur malam hari sebelum membayangkan tatapan matanya. Sebelum membayangkan tidur dalam dekapannya. Dion lah yang pertama memberikan arti cemburu. Yang membuat dia rela berdiri berpanas demi sekedar bisa melihat dion berjalan Bersama temannya menuju halte bus. Atau pura pura lewat depan kelas Dion hanya sekedar memastikan ke Dion bahwa dia ada dan selalu ada menunggunya. Dion lah yang mampu membuat dia rela nonton pertandingan bola antara kelas nya dengan kelas Dion, walaupun dia tidak pernah suka bola. Dion memang kemudian hilang ditelan rimba begitu lulus SMA, walau pernah sekali ketemu waktu reunion di Jakarta. Dia tetap seperti dulu. Dion yang pendiam. Dion yang pemalu. Jakarta tidak merubah Dion ku. Tetap seorang cowok yang baik, saleh, dan tidak macam-macam. Dia tahu Dion belum punya pacar. Dia juga tau Dion sering nanyain tentang Dia ke teman-temannya. Tapi kenapa Dion tidak berani datang. Masak mesti Shinta yang pertama mendekati dia.

Hilang sudah asa Shinta ketika mendengar kabar Dion berangkat ke Inggris. Tanpa ngomong ke dia. Akhirnya Shinta menyerah. Menyerah akan desakan mamanya untuk menerima lamaran Uda Rico. Nunggu apa lagi, kata mamanya. Kamu sudah kerja. Adikmu sebentar lagi juga lulus. Masih nunggu Dion? Dia tidak cocok untuk kamu, Shinta. Begitu selalu mama nya mengganggu dia dengan sejuta kata tak berjawab.

Ah, siapa sangka akan ketemu Dion di Airport. Saat dia akan pulang ke Padang. Dan siapa sangka Dion masih ingat dia. Dan siapa sangka Dion pun akhirnya menyatakan rasa di hati nya. Hal yang udah sangat lama dia tunggu. Menyatakan betapa tersiksanya dia menahan rasa cinta yang membara saat di Jakarta, saat di Kalimantan, dan saat di London. Ah, Dion.

Kejadian kemaren menjungkirbalikan rasa dalam dada, mementahkan semua asa dalam diri Shinta. Kejadian kemaren memaksa relung hatinya yang terdalam yang pertama diisi Dion, kembali menggelora menggetarkan. Rasa itu menepikan semua yang mengganggu yang datang setelah Dion, menyepakkan semua rupa nan mencoba dengan semena meniadakan Dion. Dion ku.

Tapi, semua sudah terlambat. Way too late.

“Shinta”, perlahan Dion berbisik setelah susah payah menerima dan mencerna apa yang diceritakan Shinta barusan.

“Ya, Dion” Shinta menatap sedih.

“Jadi..Shinta akan menikah besok pagi?” tercekat tenggorokan Dion mengucapkan kata kata itu.

Shinta menangis. Mengagguk. Tangannya masih erat menggenggam tangan Dion. Sangat erat, seolah tak mau melepaskan.

Taka da yang bisa diucapkan Dion. Nothing. Lidahnya kelu. Mau ngomong apa coba? This could not be true. But it is true. What is happening to me? And why is this happening to me? Dion menatap gadis manis didepannya, yang juga meneteskan airmata. 7 Tahun lamanya dia menahan rasa itu. 7 Tahun dia memcoba lari dari Shinta. Sampai ke London. Tapi itu tidak bisa mengurangi rasa cintanya ke Shinta.Tidak sedikit pun. Makanya ketika ketemu Shinta kemaren di Airport, dan selama di Pesawat, tiba tiba saja hidupnya jadi lengkap. Dia sangat menikmati kebersamaan dengan Shinta kemaren.

Tapi sekarang? Saya harus rela melepaskan dia. Tidak.

Tiba tiba ada ide gila dipikiran Dion. Entah darimana datang ide itu. Tapi dia ingin mengatakannya ke Shinta.

“Shinta. Do you love me?” Shinta menggangguk.

“Come with me to London. Kita kabur, berdua.” Terbelalak mata Shinta mendengarnya. Dion serius? Batinnya.

“Tapi sebelumnya kita menikah dulu.” Dion serius. Beridiri. Tapi itu gila, desah Shinta.

“Gak mungkin Dion. Nggak mungkin.” Shinta menangis lagi.

“Kenapa tidak?”

“Sudah terlambat. Too late.” Shinta hanya bisa menangis.

Dion terhenyak duduk lagi. Dion menyadari sudah terlambat. Besok pagi jam 9 akad nikah nya.

Ditatapnya Shinta. Gadis yang lama berdiam dihatinya. 7 tahun dia menunggu. Selama itu cintanya tidak pernah pudar. Sekarang ketika sudah berada di dekatnya, tiba tiba dia harus segera kehilangan Shinta. Dan ini mungkin untuk selamanya. Bukan lagi 7 tahun. Selamanya.

Membayangkan nya saja sudah bikin Dion sakit perut. Ditatapnya lagi wajah Shinta. Lebih erat. Lebih dekat.

You are too lovely, Shinta, batinnya. I cannot hurt you. Just cannot. Because I love you too much. It hurt me to see you crying.

Perlahan Dion berdiri. Merapikan bajunya. Mendorong kursi merapikan kembali. Ah, kebiasaan Dion yang rapi itu gak pernah hilang. Perlahan Dion memutar mendekati Shinta. Selama itu Shinta terus memperhatikan Dion. Dia tidak tahu apa yang ada dalam benak Dion. Sedih? Pasti. Marah? Don’t know.

Dion membungkuk. Berbisik. Pelan.

“Sekarang udah jam 7 malam. Kita masih punya waktu beberapa jam untuk berdua, Bersama menikmati masa-masa terakhir berdua, sebelum kamu jadi milik orang lain. Selamanya.” Shinta menatap mata itu. Sudah tidak basah lagi. Juga tidak marah. Yang terlihat rasa cinta yang besar disana.

“Kemana?” Shinta bertanya pelan, sambil ikutan berdiri.

“Just walk. I want to spend the last moment with you.” Dion menatap Shinta. Mesra. Ah, Dion tidak marah. Shinta tersenyum. Pahit. Bijaksana sekali Dion. Padahal tadi dia sudah seperti mau meledak. Tapi Shinta tau, Dion pasti sangat sedih dan sakit hati.

Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan yang masih basah bekas hujan sepuluh menit yang lalu. Ah, cuaca pun mengerti akan kesedihan Dion dan Shinta. Bumipun ikut menangis.

Sepanjang jalan, bergandengan tangan, mereka berdua asyik bercerita. Ceria lagi Shinta dibuatnya. Dion berusaha menghibur Shinta.

Jam 10 malam, Dion ngantar pulang Shinta. Tapi gak berani sampai ke rumah. Cukup di depan jalan utama, dimana sudah menunggu Ella.

Sebelum berpisah, Shinta menggenggam tangan Dion. Mata mereka bertatapan. Lama.

“Selamat malam Dion. I love you”

“Selamat Malam Shinta. I always love you. Gak bisa aku melihat kamu menangis. Satu hal yang kamu mesti ingat, apapun yang terjadi, rasa sayangku kepada mu tak kan pernah hilang. Tidak akan hilang, bahkan hingga matahari tidak terbit lagi di ufuk timur sekalipun. Semoga kamu berbahagia, sayang” Lembut Dion mencium kening Shinta. Shinta memejamkan matanya.

 ”I also will always love you, Dion” bisik Shinta.

Shinta masuk kemobil, melambaikan tangan. Meninggalkan Dion sendirian. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi. Membasahi Dion. Membasahi pipinya. Menutupi air matanya yang kembali turun.

The End

Disclaimer: Cerita, nama dan lokasi dalam cerita diatas hanyalah fiktif belaka. Jika ternyata ada kesamaan, baik nama, lokasi maupun tema, anggaplah itu sebuah kebetulan sahaja. Janganllah dibawa serius yaaa.

Advertisements

2 Comment on “Setetes Embun yang pupus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: