My Story

La Tahzan, Work Hard, and Makan Nasi Padang.

Tgl 25 Agustus, lima puluh dua tahun yang lalu, di rumah  sakit Elizabeth Padang, bertambah satu lagi penduduk dunia, tepat nya penduduk kota Padang. Saya gak ingat dikasih nama apa sama mami dan papi waktu itu. yang jelas dirumah saya dipanggil deni. Hanya saja, entah kenapa, di raport SD kelas 1 sudah menjadi Donny Agustinus. Is that my real name? Only God knows.

Hari ini, sudah hampir 16 tahun saya meninggalkan kan tanah air, mengejar pelangi yang sering saya nikmati di bibir pantai Padang semasa kecil dulu. Kalau saya mau bicara jujur, ada rasa ketidak percayaan kalau saya mampu keluar dari sarang yang selalau melingkari saya.

Jujur saja, Donny kecil bukanlah tipe anak pemberani. Bukan juga anak pegaul. Donny kecil lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri, membaca buku cerita LIma Sekawan, cerita komik silat jaman dulu, plus juga cerita silat bu kek siamsu. Donny kecil tidak suka hingar bingar, tidak suka musik keras, tidak suka keramaian. Baginya, sepi itu adalah keramaian yang merangsang. Merangsang imajinasi liar nya melahirkan hayalan tak terkendalikan. Hanya panggilan mami untuk makan lah yang bisa menghentikan hayalan liar nya, sesaat.

Di sekolahan pun donny kecil tak punya banyak teman. Prestasi pun biasa biasa saja. Juara kelas jarang. Cuma di SD. SMP dan SMA? Halah, tiga besar aja tidak pernah. Saya memang gak ada interest sama sekali ke pelajaran di sekolah. Entah kenapa. Prestasi saya biasa biasa saja. Nilai pun cukup lah. Cukup buat bertahan di peringkat 4 selama di SMA. Tapi satu hal yang pasti, saya senang hitungan, matematika.

Mungkin itu yang bikin Universitas Indonesia jadi tertarik ngajak saya gabung ke Teknik Mesin melalui jalur PMDK. Walau, jujur saja, saya juga gak nyangka UI mau ngundang saya. Lha, prestasi biasa biasa saja. Senangnya baca buku, main bola dan breakdance.

Kuliah pun juga begitu. Biasa biasa saja.  Lulus umur 24, IPK cuma 2.2. Untung saja, masih bisa bilang untung, diterima kerja di IKPT. Soalnya waktu test, aptitude test, matematika, wah ini pas kesukaan. Tinggi hasil tes nya. Di panggil interview, ditanyain soal Compressors dan Turbin, wah ini kan Tugas Akhir saya, untung lagi kan? 🙂

Diterima kerja, ternyata baru tahu kalau saingan waktu test dulu adalah lulusan terbaik dengan rata rata IPK 3.5 keatas. Wah. Minder? No way. Tinggal di Jakarta 5 tahun sudah cukup menempa saya jadi lebih ganteng, upps salah., lebih gimana gitu.

5 Tahun kuliah di Salemba dan Depok, ditengah ketidakbersahabatannya Ibukota terhadap orang kampung dari tapi lauik ini, seringnya saya kena lampang oleh panas nya Pulo Gadung, Pasar Senen dan Pasar Ular Plumpang, sudah cukup sebagai wake-up call bagi saya untuk lebih tegar dalam menghadapi hidup ini. Satu hal juga yang saya pikir sangat membantu adalah kegiatan saya masa kecil dulu yang sering ke mesjid sholat maghrib dan isya serta belajar mengaji. Ini yang bikin saya tidak terkapar ditampar ganasnya Jakarta. Tidak terombang ambing bak layangan putus. Nilai agama yang ditanamkan saat saya kecil di Padang sangat membantu.

Bagi saya lulus dengan IPK 2.25 dan diterima kerja sebelum lulus, sudah merupakan anugrah terbesar dari ALlah SWT. Melihat teman sekerja yang sama sama baru rata rata dari orang ada dan pintar, membuat saya tertantang. Tertantang untuk membuktikan bahwa walau saya bukan apa apa, bukan dari keluarga berada, walau IP nya cuma kepala 2, saya akan buktikan bahwa saya bisa lebih baik dari mereka.

Saya pikir, saat itu, di umur 24, itu adalah saat yang bersejarah dalam diri saya, bertekat untuk berhasil. Walau waktu itu belum punya pacar, uppsss. 🙂

Saya bekerja lebih keras. Ibarat kata paman jauuuh saya di London; work you as* out, pull you sleeve up.

Satu keunggulan saya adalah kemampuan bahasa Inggris saya yang lebih baik dari yang lain. Mungkin ini buah dari sering sendirian membaca buku dan bicara sendiri dalam bahasa Inggris, semasa kecil dulu. Bah, berguna juga kan suka sendirian itu.

That’s it. Dari situ, saya gak pernah lagi berhenti. Karir saya melesat. Mulai dari penugasan ke Gresik, Jawa Timur tahun 1991, ke LA, Los Anggeles ya, bukan Lenteng Agung, tahun 1995 dan terus ke London tahun 1997.

Pulang dari Duri selesai tugas jadi Engineering Manager tahun 2002, saya mulai berpikir. What next?

Saya mencari sesuatu yang hilang dalam diri saya. Saat itu saya berumur 36, sudah menikah,  punya 2 anak. Saya butuh sesuatu tantangan lain. Saya ingin yang lebih baik buat anak-anak.

Saat itu saya pindah ke Singapore. Tahun 2003. That’s my second turning point.

Karena, dari Singapore tahun 2003, saya tidak pernah balik ke Indonesia lagi. I never look back.

2004 saya pindah ke Inggris. Ngelamar sendiri lewat Internet. Interveiw juga lewat telephone. My confident level was at the highest level

Hari ini, hampir 16 tahun setelah meninggalkan Indonesia, saya masih suka bertanya: Is it real?

Saya pesan ke anak saya: gak peduli orang mau bilang apa tentang kalian, just don’t care. Jika ada yang memandang rendah, la tahzan. All you have to do is to work hard, study hard, dan jangan lupa sholat dan mengaji serta berdoa kepada Allah SWT. Allah Khair.

Do your part, and I will support you, I will help you to succeed. That’s my promise to my kids.

Saya selalu bilang ke anak saya: Look to your Dad. I am only a mechanical engineer from the University of Indonesia with GPA 2.25. I never went to University in the US or UK or Australia. Just a Bachelor Degree. Nothing more, nothing less. No Master Degree, no PhD.  I am not a petroleum engineer either. Just an ordinary engineer. Bloody Engineer. But I Worked hard, harder than anybody else. Focus on my job, always learn something new every day and be innovative. Now I am here. Works and settled in London, got the roof above our head and continue my adventure in The Desert, standing side by side with other professionals from a different country.

If I can, you can, Insya Allah.

That’s my message to my kids. And to you, if you want to. 🙂

Categories: My Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.