Lebaran kali ini saya mesti ke London, walaupun saya sebenarnya lebih senang Lebaran di Padang.  Bukan apa apa. Anak saya yang pertama dan kedua sedang sekolah di London dan juga lagi final exam sehingga gak bisa pulang. Jadilah saya dan keluarga berlebaran di Negri orang. Tapi momen nya pas juga karena sekalian melihat apartment yang barusan kosong. Sekalian ngurus remeh temeh juga.

Di London kami tinggal di apartment  deket Hayes, Heathrow. Kebetulan deket mesjid sehinngga memudahkan untuk sholat Eid. Perjalanan kali ini agak unik. Saya beli tiket di website nya KLM, namun karena KLM join dengan Etihad dan Air France di Sky Team, jadilah kami berangkat naik Etihad ke Abu Dhabi dan Amsterdam, dan melanjutkan ke Heathrow dengan KLM. Sedangkan pulangnya nanti ke Paris dan Dubai dengan Air France dan ke Dammam sama Fly Dubai. What a journey… 😁

Stop over di Schippol gak lama, 2.5 jam, cukup untuk melemaskan otot sambil ngopi, gak puasa soalnya..kan musafir.

Sampai di London sudah jam 5 sore hari Rabu. Nah, besok nya masih Ramadan. Wah puasa gak ya…19 jam soalnya. Bismillah. Saya mau coba puasa tanpa mengurangi aktifitas yang penuh dengan jalan kaki dan naik Train. Saya mesti ke Wimbledon, ke Flat, ke Agency, ke Kingston. Full of walk. It was tough. 19 jam. I guess I appreciate the Muslim in London for keeping their Iman and Taqwa for fasting this long hour in Ramadan.

Saya sholat Eid di mesjid deket apartment yang saya sewa di Heathrow. Sholat nya beda sama kita. Dua rakaat juga. Cuma beda di jumlah takbir nya. Biarlah.

Selesai sholat kami balik ke apartment. Saya gak mau ke KBRI. Kejauhan. Lagi pula malas aja. Udah bosen. Lebih baik tidur sebentar. 😀 soalnya sorenya mau ketemuan teman lama di Westfield.

Di westfield kami janjian di Lebanon Restaurant. Ketemuan dengan teman lama. Ramai. Cerita soal macam macam. Mulai dari kerjaan, apa rencana ke depan  dll. Sampai ke cerita ada teman yang dulu sangat akur..tiba tiba saja divorce. What???

Nobody know the real reasons.

Tapi saya bisa menduga dan temen saya sepertinya sepakat.

Suami cenderung mau menang sendiri. That’s a fact. Nah biasa nya istri lebih banyak memendam rasa. Segala rasa. Rasa sedih, sakit hati, tertekan. Semua di tahan. Banyak alasan. Demi anak, itu alasan utama. Alasan lain, takut tidak bisa mandiri jika pisah.

Tapi, kita punya batas kemampuan menerima segala sesuatunya. Dalam ilmu teknik, ada batas Stress yang bisa diterima oleh sebuah material. Jika melebihi batas, material akan pecah atau meledak. Begitu juga manusia. Jika stress atau tekanan sudah melebihi batas, either die or explode.

Bagi yang udah fed up, akan explode and say enough is enough. They will make a decision. Brave woman.

So, before it happens, husband, please try just little tenderness for your wife. Key word is empathy. Love. Listen to her. Be patience. Always be there when she need you.

Saya jadi ingat lagunya Michael Buble..

Just a little Tenderness…
It’s not just sentimental
She has her grief and her cares
But a word so soft and gentle
Makes it easier to bear

You won’t regret it
Women don’t forget it
Love is their whole happiness
And it’s all so easy
Try a little tenderness

But a word soft and gentle
Makes it easier to bear

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.