Kalau mau jujur, menjadi Engineer atau Insinyur, bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Masa kecil dulu, cita-citanya jadi Pilot atau masuk Akabri. Gagah soalnya.

Ketika kelas 3 SMA, pas disuruh ngisi formulir PMDK, sebenarnya masih bingung juga. Lagi pula gak pede. Wong gak pernah juara kelas kok disuruh ngisi PMDK. Get real Don. Tapi ya karena harus, diisi juga lah tuh formulir. Saya ingat Uni Desi yang menyarankan saya untuk  pilih Teknik Mesin UI sebagai pilihan pertama dan Teknik Sipil UI sebagai piliha ke dua. ITB gimana, saya bilang. Gak usah, di Jakarta aja. Gak boleh sama mami,  ingat saya dia bilang begitu.

Pas mau terima Ijazah SMA, dapat juga surat dari UI bahwa diterima di Teknik Mesin UI melalui jalur PMDK. Surprised juga sih, gak pernah juara kelas soalnya. Cuma agak sikit pede lah, soalnya bu guru bilang saya punya chance untuk diterima karena nilai matematika dan fisika saya sejak Kelas 1 sampai kelas 3 stabil di angka 8. Ok, maybe saya pikir.

Tapi, kuliah di Jakarta dan Depok, waktu itu, nggak begitu convenient. Soalnya lebih kepengen ke Bandung. Karena kagak ada izin Ortu, terpaksa lah menyelesaikan kuliah di UI saja.

Menjelang lulus, temen-temen pada nyari kerja di Schlumberger, Caltex, Total, Mobil Oil (waktu itu), Unocal, Arco, dan lain-lain.

Saya terus terang saja, gak minat. Paling nggak suka saya kalau mesti ke laut, alias ke anjungan minyak lepas pantai. Bagi saya itu kerjaan yang, sori aja man, kotor.

Schlumberger? Wah saya jelas gak tertarik. Kerja nya banyakan ke hutan. Dan susah sholat katanya. Ke Pabrik gimana? ASTRA misalnya? Atau Pertamina? Gak lah. Pokok nya saya gak mau kerja yang kotor kotor. Saya masih ingat waktu jaman kuliah dulu, pas dirumah lagi bongkar mesin mobil harusnya sebagai anak Mesin saya langsung tertarik dong. Eh, ini malah gak mau. Cuma melhat sebentar, langsung pergi. Dekil. Main gemuk sama oli. Not my bread and butter, saya pikir.

Maunya kerja di Sudirman, kantor ber-AC, pakai dasi dan jas. Pokoknya nggak mau kerja kotor. Makanya orang bilang: “Don, salah lu masuk Mesin. Harusnya masuk Ekonomi”. Nyengir aja saya.

Makanya juga, waktu Praktikum Lab Mesin, saya paling malas, apalagi saat Praktikum Logam dan Pengelasan. Bah. Benci kali aku. Sampai gagal beberapa kali disuruh ngelas.

Tapi karena sudah masuk FTUI, ya udah jalani saja, walau nggak 100% commitment. Apalagi saya pengen kuliah di Inggris sebenanrya. Biaya sendiri gak punya duit. Ikutan test BPPT nya Pak Habibi, gagal.

I was stuck with Mesin UI.

Tapi, ya alhamdulillah , lulus juga  Insinyur dengan IP pas-pasan. Mau tau berapa IP saya tahun 1991 itu? Hehhehe, gak sampai 2,5 pokoknya.

Untungnya lagi…eh..Alhamdulillah nya, tahun 1990, sebelum sebelum lulus, sudah dapat kerja di IKPT.

Di IKPT, kerja nya enak. Ruang ber-AC, ber-komputer, masuk jam 8 pulang jam 5. Sore nya masih bisa ke 21. Atau main Video game. Mantap kan.

Eh, 2 tahun kemudian dikirim ke Lapangan alias ke Proyek di Gresik, Jawa Timur.  Nggak apa-apa lah. Jalanin aja, pengen tahu. Hanya 1 tahun saja. Habis itu pulang kembali ke Kantor Pusat Jakarta.

Pas pulang, saya sudah wanti-wanti sama diri sendiri: No more site. Nggak lagi deh ke Proyek. That is not for me. Simple as that.

Jalan hidup kemudian membawa saya ke Los Angeles, California, USA. Kemudian sempat ke Las Vegas. That was awesome.

Pulang dari LA, tetap di Jakarta.

Setelah itu, ditempatkan di London. 1 Tahun, yaitu 1997 – 1998. Pas Rupiah ambrol, dan Pak Harto turun. Kerusuhan May 1998. Saya ingat waktu itu di London, 1 pound masih 3000 rupiah. Pas pulang sudah menukik tajam di 20,000 rupiah.

Setelah suasana agak reda, tahun 2001, main ke Lille, Amsterdam, Paris, business trip. Udah Manager soalnya.

Merasa enak ngerasain luar negeri, akhirnya, 2003, pindah kerja ke Singapore.

2004 sampai sekarang terdampar di daratan Inggris dan sekarang pun nyasar di Saudi Aramco.

Dapat kabar dari teman-teman, kebanyakan sudah menyebar.

Ada yang ke Malaysia, Qatar, Saudi Arabia, Singapore, Belanda, Norwegia, Inggris, dan ada yang masih di Jakarta, tapi gaji mereka sudah jauh lebih gede dari gaji ditempat dulu.

Misalnya, di Malaysia mereka sudah bergaji USD6000. Di Qatar juga segitu plus apartment lagi.

Di Jakarta, yang pindah ke Perusahaan Asing sudah bergaji 25jeti. Waktu itu, lhoo.

Wah, hebat teman-teman saya sekarang.

Ternyata, jadi Engineer masih cukup oke buat saya. Just an engineer.

Mungkin inilah namanya Kehendak Allah, Rezeki dari Allah, yang sudah ditentukan Allah, kita hanya disuruh mencari dan mencari dan berusaha mencari.

Jika belum ketemu, jangan putus asa. Cari terus sambil tak lupa ber-doa.

Saya kadang malu sama Allah, kebanyakan doa. Kebanyakan minta. Minta ini, itu. Minta mau ke London, ke Malaysia, ke Singapore, Paris, LA, Mekkah, Medinah. Padahal masih banyak bikin dosa.

Allah sudah berikan itu semua ke-saya. Diberi kenikmatan yang tak terhingga, utamanya nikmat IMAN, nikmat diberi kemampuan menjalankan Ibadah di negeri Non-Muslim.

Tinggal saya yang harus bersyukur atas karunia dan rezeki Allah berikan. Bersyukur bukan hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah, tapi juga dalam bentuk menjalankan perintahnya.

Dan tak lupa bayar zakat, don.

Surat Ibrahim Ayat 7 (14:7):

Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jik kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-KU, maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih”

 

Source: My Leadership Journey, from Padang to London, Donny Agustinus, 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.