Malam itu saya sedang diskusi dengan anak bujang saya. Dia kelas 8. Istri saya bilang dia tadi pulang agak mendung mukanya. Pas ditanya, gak mau jawab. Nah, pas saya pulang kerja, saya pun diberi tahu istri soal anak saya itu. Pas istri cerita, saya diam saja. Kemudian, seperti biasa, saya mandi dan bersiap sholat magrib.

“Let’s go Kids” teriak saya mengajak dua anak laki laki saya bersama ke Mesjid. Cukup jauh mesjid di komplek kita, jadi kita mesti mengendarai mobil agar nyaman.

Sepulang dari mesjid, makan malam dan baru saat santai.

Saat itu lah saya ngajak anak saya ke kamar dia, sementara adiknya saya suruh ke kamar belajar. Biar ada privacy bicara sama dia. Saya tanya keadaan dia, gimana sekolah hari ini, tapi saya gak bilang kalau mamanya lapor ek saya tentang dia pulang hari ini agak pundung.  Saya pengen tahu apakah dia akan terbuka sama saya.

“It’s okay daddy. Everything’s fine at School” di coba meyakinkan saya.

Saya hanya tersenyum. Saya pandang dia lekat lekat. “That’s all?”.

“Yes Daddy. That’s all”.

Saya bilang sama dia: “You can tell me anything and I would not get mad to you”…masih berusaha memancing dia untuk terbuka ke saya.

Kemudian saya berdiri, menarik dia pelan dan memeluknya serta mengelus punggung nya seraya berbisik:

“Trust me my son. I love you and I will support you for whatever happen to you. If you need help, I am here to help you. Please be open to me”

Barulah dia cerita melepaskan semua uneg uneg nya di sekolah. Soal temennya yang nakal, soal pelajaran yang susah, soal dia gak bisa konsentrasi karena temannya berisik, semua lah.

Saya biarkan dia ngomong. Saya cuma mendengar. Just listen quietly.

Setelah dia selesai, baru saya bahas satu satu.

Soal temen nakal: “Just tell them in front his face that you don’t like him like that to you. Be brave. Raise your voice.” Jika gak berhasil, bilang sama guru. Satu hal yang mesti kamu ingat, be smart, no violence. Karena dia pasti juga tidak berani berlaku kasar. You have to stand up. Don’t worry. Whatever happen, I will support you in front of teacher.” Dia melihat saya, dan mengangguk. Yakin kali dia bapak nya akan membela dia. 🙂

Soal pelajaran susah: ” Don’t worry. We will study together. I will teach you. I am Engineer, remember? Belagu pulak kita sikit… :). Dia mulai tersenyum.

Temennya noisy: ” Easy. Tell him to quiet or go to Library which is I believe the best place to study. Or away from him”

Apa yang saya bilang ke anak saya, bisa jadi dia gak akan lakukan besok. Tapi, setidaknya dia sudah meluapkan semua kedongkolan dan semua permasalahan dia, dan saya coba kasih satu solusi yang bisa saja dia gunakan. The point here: dia mulai sedikit confident. Just little bit.

Saya selalu senantiasa berdialog dengan anak anak saya. Bahkan dalam dialog saya posisikan anak anak seperti teman di kantor, sehingga dialog nya sangatlah serius. Saya ingin membiasakan mereka dalam posisi diserang dalam sebuah diskusi sehingga dia akan terbiasa dan mampu memberikan jawaban tanpa harus takut ataupun emosi atau malah nangis.

Selau, di akhir diskusi kami yang kadang keras, sampai istri saya bengong melihat kami bertiga ber debat kencang, jika saya salah dan kalah berdebat, saya akui didepan mata mereka.”You right. I am wrong. Thanks for the lessons”

Kalau ngikut ego saya, mana mau saya ngaku kalah sama anak saya yang SMP dan SMA. Bisa saja saya ngeyel dan menggunakan kekuasaan saya sebagai Ayah. Tapi, saya gak mau seperti itu, saya mau mengajarkan mereka bahwa jika kita salah, kita harus mengakui.

Sama halnya di kantor. Kita gak bisa ngotot bahwa kita adalah yang benar. Sama anak buah saya juga begitu. Jika salah dalam diskusi, ya salah aja. Admit it.

Dengan melakukan hal hal diatas, seperti membantu ketika dia kesulitan, bersedia membela dia ketika dalam masa susah, serta berani mengakui kesalahan, maka dengan demikian kita akan menciptakan rasa aman di diri anak anak kita. Rasa aman bahwa jika dia buat salah, Ayahnya agak akan marah malah akan membantu dia untuk memecahkan masalah yang dia hadapi tanpa harus takut dibilang bego atau bodoh.

Itu lah fungsi Ayah, menurut saya. Membimbing anak, mengembangkan rasa aman dan percaya diri untuk mengakui bahwa saya salah dan saya minta ditolong untuk memperbaikinya. Mau mengakui dan bilang bahwa saya gak bisa dan gak ngerti, ajarin dong, tanpa harus takut di bully sama parent nya. Gak harus takut bilang bahwa nilai ujiannya jelek karena dia yakin ayah nya akan bantu dia, entah ngajarin dia, ngirim leas tambahan atau menyemangati dia.

Embrace them. Nurture them. Help them. Coach them. Counsel them. They are your children. They need you.

If you do that… hmmmm your mahmud will be happy and you will get the best service in the planet.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.