My Story

Once Upon A Time in Hersham, Surrey

Waktu itu masih menunjukan jam 7:30 pagi, tanggal 4 May 2004. Temperature pagi itu masih cukup dingin buat saya yang datang dari daerah tropis. Sambil menunggu di lobby, saya perhatikan suasana ruangan tunggu di kantor Air Products, UK Limited. Hmm. Masih canggihan ruang tunggu kantor yang di Jakarta dulu, batin saya.

Tak lama kemudian seseorang menghampiri saya, sambil mengulurkan tangan. Menyapa saya hangat.

“Donny? I am Phil Rice. Welcome to Air Products. How’s your trip?”

Setelah berbasa basi sedikit, dia pun mengajak saya masuk ke kantor nya. Gak lama kemudian saya pun diantar kenalan ke seluruh anggota team Engineering. Setiap kenalan sambutan mereka sangat bersahabat dan yang jelas ngomong nya saya suka gak ngerti terutama karena mereka menggunakan dialek British yang sangat kental. Tapi saya mencoba bersikap sopan dan menjawab sesuai dengan pakem yang saya tahu.

Setelah kenalan dengan semua team, saya pun di kenalkan khusus ke Lead Piping Stress Analysis; an old man with very strong British accents, namanya Mike. Dia yang kemudian mengenalkan saya ke project yang sedan dikerjakan dan kemudian menunjukan cubical saya.

Gak lama. Paling dua menit dia menjelaskan soal kerjaan. Intinya sih dia bilang”

“Donny, you know the work package, right? Please have a look, get familiar and off you go”.

Saya melihat dia. Work pakage? dalam hati saya bergumam. Binatang apa pula ini.

Tapi, diluaran saya bilang, Off course.

Setelah dia pergi, baru saya perhatikan apa yang dia maksud dengan work package. Ah, cuma gini aja, gumam saya. Gampang ini.

Ngopi dulu ah, saya pikir, sambil berdiri dan berjalan mencoba mengingat dimana lokasi Vending Machine yang sempat di jelaskan sama si Mike tadi.

Sambil berjalan pelan, saya perhatikan lagi suasana gedung kantor nya. Hgh. Hari ini adalah hari pertama saya bertualang di London. Hari pertama saya menginjakan kaki di sebuah kantor sendirian. Biasanya, saya datang ke London sebagai bagian dari tugas saya dari kantor di Indonesia, sehingga mereka biasanya sudah menyambut dan menyiapkan segala sesuatu. Saya ibaratnya cukup duduk manis, tunggu jemputan dan sampai di kantor pun saya disiapkan ruangan, dan biasanya ketemu sama manager nya.

Tapi, sekarang, I come alone. Complete stranger. Gak ada yang nganterin. Gak ada yang melayani. All by myself.

Berada di lingkungan  yang 99% kulit putih, soalnya yang 1% kulit warna ya saya, orang pada ngomong dengan menggunakan British Accent, malah ada yang parah menggunakan Scottish accents, jelas bikin saya deg degan.

Tapi, satu hal yang saya yakini, bahwa saya yakin akan kemampuan teknis dan pengalaman saya plus kemampuan saya untuk cepat belajar. Ketika berkomunikasi dengan mereka pertama kali, saya jujur aja bilang kalau saya gak ngerti blass omongan dia, sehingga dia pun ngomong lebih pelan.

The good thing, mereka tidak menganggap remeh saya, walaupun rambut hitam dan kulit coklat. They look into my experience and how I do my work.

First Impression is always important. Selanjutnya…terserah anda…(hehhehe..bukan..itu mah iklan obat ketek.. 🙂 )

Satu tahun saya di kantor nya Air Products, Hersham, Surrey, UK. Pengalaman yang tak terlupakan. Disitulah saya belajar ngitung Cold Box beserta perlite untuk insulasinya. Di Hersham Surrey lah saya sempat tinggal 1 bulan di B & B Hotel, alias kos kosan. Juga pertama kali dalam hidup saya mesti jalan kaki ke kantor; 30 menit pergi dan 30 menit pulang. Maklum kantor nya di pedesaan. Pernah juga saya setengah berlari menuju Train Statiun karena takut ketinggalan, saking tepat waktu nya si Train. Soalnya kalau ketingalan, bakalan nunggu 30 menit lagi, sendirian di stasiun yang terbuat dari kayu. Masih bagusan Stasiun Manggarai bro.

Saya ingat, waktu berlari ke stasiun, ada aja mobil yang berhenti sambil nanya: “Are you Ok? Pas saya bilang mau ngejar train, dia malah bilang: “Do you want me to take you to the station?” Hahahaha… jadi malu sendiri saya. Tapi kalau pas cewek yang nawarin, saya sih mau juga…. lumayan kan… Hahahahah.

Challenge terbesar bagi saya awal awalnya adalah sholat. Tempat nya kan gak ada belum lagi wudhu nya dimana. Awalnya saya selalu jamak aja di rumah. Tapi lama kelamaan saya pikir gak bener nih. Tanya ah, boleh gak pinjam ruangan kalau mau sholat.

Confident aja saya ngomong sama si Phil: “I need a room to pray. Can I use one of empty room? Dia ngliat saya sambil bilang: No problem. You can use conference room while empty.

See. You don’t know the answer if you don’t ask.

The point here is: “Don’t worry about your skin colour. Always believe what you believe. Stand up and talk honestly and confidently. You will be okay…oh , wrong.. You will succeed… Insha Allah.

 

Categories: My Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.