It’s Not Easy to Be Millennial Kids atau Kid Jaman Now, and Five For Fighting

It’s Not Easy to Be Millennial Kids atau Kid Jaman Now, and Five For Fighting

Kid Jaman Now atau juga disebut Generasi Millennial adalah anak anak yang lahir setelah tahun 1984. Mereka, menurut informasi yang bertebaran di internet lho, dikenal punya beberapa sifat seperti:

  1. Susah di urus atau susah diatur (tough to manage)
  2. Merasa punya hak (entitle)
  3. Gak fokus
  4. Malas
  5. Suka dan bangga banget ama diri sendiri (narcissist)
  6. Lebih suka mementingkan diri sendiri (Self-interested)

Simon Sinek, pakar Leadership dari US mengemukan bahwa ada empat masalah pokok kenapa mereka bisa seperti itu:

  1. Parenting
  2. Technology
  3. Impatience
  4. Environment

Anak Millennial selalu di agung agung kan sama orang tua nya bahwa mereka adalah anak anak yang hebat, pintar dan spesial. Mungkin orang tua yang dulunya merasa kurang perhatian sehingga mereka mencoba men-kompensasikan kepada anak nya dengan memberikan perhatian dan sanjungan yang berlebihan. Bahkan orang tua pun tanpa sungkan suka ikut campur masalah anak nya di sekolah, seperti komplain sama guru jika anaknya dapat nilai jelek atau minta agar anaknya masuk kelas “Honour”. Sampai sampai ada guru yang karena malas menghadapi orang tua murid yang “nosy” tersebut, diberilah apa yang dia mau. NIlai yang bagus lah. Dapat medali atas keikutsertaannya pada sebuah lomba walau datang telat. Pokok nya mereka selalu mendapatkan apa yang mereka mau. Dalam istilah yang disebut di Internet adalah Fail Parenting Strategy.

Kelompok ini yang kemudian lulus dan masuk kedunia kerja yang sudah pasti beda banget dan gak bisa lagi mengandalkan orang tua untuk ngedapetin promosi atau email sama bos agar gak dimarahin atau dikasih kerjaan yang sesuai mau nya mereka.

Anak millennial juga hidup dimasa marak nya sosmed dan gratifikasi. Dimana kalau sudah posting sesuatu tapi tidak ada yang me- like, langung stress. Pikiran langsung macam macam: “kenapa ya? Apa temen temen sudah gak suka lagi sama saya?” . Mereka dengan mudah menunjukan bahwa kehidupan mereka sangatlah nyaman dan enjoy, walau sebenarnya mereka lagi depresi. Life seems rosy. Makanya jika ada yang LIKE postingan mereka, langsung deh happy.. Life is good bro… Udah gak jauh beda sama rokok, alkohol dan judi, karena sama sama bersifat “kecanduan”. Gimana gak. Jalan sambil chatting. Makan gak lupa photo makanan dan selfi. Bangun tidur, sebelum gosok gigi, check HP dulu. Gak bisa tidur, mainin HP.

Mereka lebih mengedepankan pandangan teman dari padangan orang tua atau guru. Tapi mereka juga menyadari bahwa temen pun tidak lah abadi. Setiap saat bisa saja mereka memutuskan pertemanan jika ada yang lebih baik mereka temui.

Ada anggapan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membina hubungan yang mendalam…atau istilah Simon Sinek “Deep meaningful relationship”. Mereka juga cenderung tidak sabar, mau cepat saja, terutama dalam hal karir.

Sayangnya, mereka memasuki dunia pekerjaan yang tidak peduli dengan mereka dan menganggap mereka tidak lebih dari pekerja biasa.

Alhasil , banyak yang frustasi sebenarnya. Gak PD. Walaupun kalau di telaah, itu bukan salah mereka.

Dalam dunia industri saat ini, gak ada pilihan lain selain ikut serta untuk membantu anak Millennial ini.

Disinilah pentingnya peran seorang Leader yang mengerti pokok permasalahan pada anak millennial ini. Leader yang mengerti bahwa apa yang anak millennial lakukan saat ini bukanlah murni salah mereka. Sehingga Leader di perusahaan lah yang diharapkan memperbaiki mereka. Karena lima dan sepuluh tahun kedepan mereka akan sangat berperan dalam tatanan kehidupan masyarakat dan dunia kerja.

Kita yang sudah mapan di dunia kerja dan dunia industri, mempunyai tanggungjawab besar, suka atau tidak suka, untuk ikut berperan membantu anak Millennial yang sangat pintar pintar, brillian, punya ide ide cemerlang, untuk bisa sukses dan membangun kepercayaan diri mereka. Ajarkan mereka untuk menjadi sabar dalam membina karir, bimbing mereka untuk mengerti tentang pentingnya untuk fokus dan menjaga komitmen. Latih mereka dalam hal social skill dan soft skill, dan bantu mereka untuk mendapatkan keseimbangan antara penggunaan technology dan kenikmatan hidup bersosialisasi.

——
Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I’ll never see
It may sound absurd, but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed, but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
And it’s not easy to be me
—–

(by Five For Fighting)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.