Masa di Padang

Chapter-3: Masa di Padang

Menurut ingatan orang tua, saya lahir hari kamis sore menjelang maghrib tanggal 25 Agustus tahun 1966 di rumah sakit Elizabeth, Padang. Kenapa menurut ingatan orang tua? Lha wong akte kelahiran saya aja baru saya buat pas mau masuk SMA. Serius. Biasalah orang jaman dulu, walaupun bapak saya termasuk pedagang waktu itu, Cuma mungkin belum kepikiran untuk membuat akte kelahiran.

Saya masih ingat waktu itu bikin akte kelahiran di Balaikota Padang, dengan bantuan salah seorang saudara yang kerja disana. Distulah ditulis nama saya Donny Agustinus. Saya sendiri heran sebenarnya, siapa sih nama saya yang sebenar benarnya saat lahir? Masak iya Donny Agustinus. Soalnya dirumah saya dipanggil Deni. Tapi sejak SD sudah jadi Donny. Nah, Agustinus nya dari mana? Itu kan nama kristen katanya.

Halah, moyang saya aja bilang: What is the name? Apalah artinya sebuah nama. Mau nanya sama mami, jawabannya gak ingat. Sama papi? Beliau sudah dipanggil mengahdap yang maha kuasa saat saya masih berumur 3 tahun. Jadilah saya menyandang nama tersebut sejak SD. Makanya juga akte kelahiran saya pun dibuat menyesuaikan denga Ijazah SD. What to do? Kata orang Imarat. Mami saya single parent membesarkan 5 anak nya sendirian, walaupun ada kala waktu dibantu sama saudara dalam hal pengasuhan.

Nama ini sebenarnya membawa kebingungan. Kenapa kebingungan? Hampir semua teman saya di Jakarta dan juga kemudian di Inggris dan di Saudi menyangka saya bukan muslim. Jadi, pernah waktu mau sholat, semua mata memandang. Seolah ingin bertanya: “Ngapain disini?”. Bagi yang gak sabar, biasanya habis saya sholat suka nanya””Baru masuk Islam ya don?” atau “Lho, kamu muslim toh Don?” Saya suka geli sendiri kalau sudah begitu.

Dulu waktu kecil, karena saya tinggal di Jalan Hangtuah yang tinggal selempar galah ke tepi laut, saya sering berdiri dibibir dam yang dibangun oleh pemerintah untuk membendung derasnya ombak Samudra Indonesia, sambil memandang pertemuan langit dengan laut un jauh diujung sana. Saya suka berpikir, ada apa diujung laut itu? Benarkah langit akan bertemu dan bercumbu dengan lautan? Apakah betul matahari tenggelam di ufuk barat menuju ke peraduannya? Kadang saya melihat kapal barang lewat jauh diujung laut sana. Saya juga sering memperhatikan nelayan yang mau berangkat memukat ketengah laut di pagi hari, dan menunggu mereka pulang di sore hari. Kadang saya ikut turun ke pasir melihat dari dekat walau kalau ketahuan sama mami saya pasti akan di marahin. Saya suka melihat kedalam sampan yang kemasukan air laut untuk melihat jika ada ikan kecil yang tertinggal. Dan biasanya banyak. Gak saya ambil. Hanya sebatas pengen lihat aja.

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling saya tunggu. Akhir pekan dan tidak ada jadwal belajar malam. Walau ngaji sama guru ngaji yang dipanggil kerumah tetap tidak bisa ditinggalkan walaupun akhir pekan. Sabtu sore biasanya kita main bola di pasir pantai, yang diteruskan dengan mandi laut, walau lebih tepatnya, main air laut, karena jujur saja saya gak berani berenang ke tengah laut terutama saat ombak gede. Selesai main air laut, saya biasanya duduk di pasir yang basah di bibir laut. Sesekali ombak datang mengelus kaki saya. Saat saat seperti itu, saat senja mau datang, saat pantai sudah sepi, suasana senyap, saat itu adalah saat yang paling saya senangi. Saat itu, pikiran saya jauh melayang entah kemana. Mata tak lepas memandang horizon di ujung sana. Pertanyaan yang sama tiap hari dan tak pernah ada jawabannya: “ada apa di pertemuan langit dan laut diujung horizon sana.?”

Seperti sore itu. Udara nyaman sekali. Angin tidak begitu kencang bertiup. Sepoy sepoy basah, kata orang Inggris. Ombak pun seperti ikut larut dalam kesenyapan, gak ganas melumat pasir basah seperti sehari sebelumnya.

Don…pulang wak lai” ajak si welly. Yang lain ikutan mengajak saya pulang.

Ndak…ang pulang dulu lah”, jawab saya sambil mengempaskan tubuh ke pasir yang basah dan sedikit lembek. Seperti biasa mereka mengerti kebiasaan saya yang suka sendiri menatap jauh ke horizon sana. Satu persatu mereka menghilang dibalik tangga menuju ke jalanan.

“Jaan lamo bana disinan yo…nyo cari dek mami beko” sayup masih terdengar si welly mengingatkan.

Saya hanya diam saja. Mereka tahu lah saya pasti pulang sebelum maghrib menjelang. Perlahan saya merebahkan badan. Sesekali ombak datang membasahi punggung saya. Mata saya menatap langit yang mulai gelap. Hening. Yang terdengar Cuma deburan ombak dan angin laut yang lembut.

Sesaat kemudian saya segera bergegas bangkit dari rebahan di pasir dan setengah berlari menaiki tangga dam menuju jalan pulang. Sudah waktunya pulang, sudah mau mgahrib, pikir saya.

Dua menit kemudian saya sudah sampai di pagar samping rumah. Dengan cepat saya menyelinap masuk rumah lewat pintu samping yang bisa tembus ke kamar mandi. Rumah kami masih menggunakan kamar mandi model lama. Masih pakai sumur dan timba. Namun tetap pakai atap. Cepat cepat saya mandi sore menjelang maghrib. Soalnya mami gak suka kalau saya pulang telat. Basah berlumuran pasir lagi. Lagi pula saya akan ketinggalan sholat maghrib di mesjid parak karambia.

Selain main bola di pantai, maka membaca komik silat dan main layangan adalah salah satu kebiasaan saya untuk menghabiskan waktu sepulang sekolah. Ada tempat yang sering saya kunjungi di sebelah Museum Adityawarman. Disitu, saya bisa dengan mudah melahap buku cerita silat karya asmaraman khopingho dalam waktu dua jam, tanpa jeda. Sampi sampai saya jadi kenal sama penjaga kios komik itu. Menjelang asyar baru saya pulang. Jalan kaki ke Hangtuah. Selama perjalanan pulang itu, otak saya masih penuh dibayangi dengan adegan dalam buku cerita silat yang baru tamat saya baca.

Malamnya acara tetap adalah ngaji dulu dibimbing guru gaji yang dipanggil ke rumah, baru diikuti dengan ngerjain PR atau kalau tidak ada PR, belajar sebentar. Sebentar bener malah. Apalagi kalau gak ada ulangan. Saya gak mau ngaji di TPA d mesjid dekat rumah. Bukan apa apa. Terlalu berisik dan rame sama anak anak. Pernah sekali ikutan ngaji di TPA. Saya pun komplain sama mami. Berisik, saya keluhkan ke mami. Makanya saya gak mau disuruh kesana. Akhirnya mami, ngalah, dengan memanggil guru ngaji ke rumah.

Tapi gak lama juga. Enam bulan berikut nya, saya minta mami supaya nggak usah ngundang guru ngaji lagi. Sudah bisa ngaji sendiri, alasan saya. Dan memang saya konsekwen untuk ngaji sendiri tanpa harus ada guru yang mendampingi. Apakah saya pernah tamat baca Quran dan kemudian dilakukan perayaan seperti jamak nya anak anak jaman itu? Ah, perasaan saya tidak pernah di arak seperti itu. Dan saya pun tidak peduli. Waktu itu saya gak begitu peduli kalau saya menamatkan Quran. Mungkin saja tamat, tapi saya gak ngasih tahu mami. Saya pikir, buat apa pakai acara di rayakan segala? Tamat baca Quran? So what? Pokok nya saya gak begitu pedui dengan segala macam seremoni.

Saya baca quran karena saya suka membacanya dengan irama yang saya nikmati. Itu saja. Sama hal nya dengan belajar, Saya biasanya hanya belajar kalau besoknya mau ulangan. Kalau gak ada ulangan, saya Cuma baca buku lima sekawan. Kadang baca koran atau majalah cerpen. Kadang lagi nulis cerita pendek. Atau malah tiduran, bikin cerita sendiri. Makanya diantara kami bertiga, Uni Desi dan Adik saya Budi yang selalu juara satu di kelas, terutama di SMP. Sedangkan saya, suka gak peduli. Mau juara 1 kek, juara 2, juara 5, whatever lah saya pikir. Untung nya mami gak pernah komentar soal itu.

Oh ya, saya sempat dikirim sama mami ke TK Pertiwi. Setahun, sebelum kemudian meneruskan ke SD Pertiwi I. Dulu, sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah jika dari SD Pertiwi, saya meneruskan ke SMP 2 dan kemudian ke SMA 2. Seperti sudah hal yang normal. Uni Desi ke sekolah yang sama begitu juga adik saya Budi.

Orang bilang saya anak mami. Senang nya dirumah. Penurut. Saulah. Mami selalu minta saya untuk menemani beliau kalau mau kemana saja. Entah itu ke pasar beli daging, cabe dan sayur mayur di Pasar raya. Atau ke pampangan melihat sawah milik keluarga. Naik motor. Saya gak tau kenapa mami memilih saya padahal ada abang saya. Mungkin karena satu hal yang beliau suka dari saya adalah selama pergi bersama beliau, saya selalu diam tidak banyak ngomong, tidak banyak cerita, dan tidak banyak komentar. Masuk pasar yang berlanyah pun gak banyak omong. Ke Pasar ikan yang bau amis pun hayuh aja. Ke pasar daging , why not? Still in silent following her from the back.

Bener gak sih saya diam waktu itu? Tentu saja tidak. Pikiran saya sibuk mereka cerita yang saya suka. Macam macam cerita nya. Mulai jadi pemain bola dan ditonton my princess. Rangkaian cerita itu saking panjangnya baru selesai ketika sampai di rumah. Tapi sampai dirumah saya gak ikut beresin belanjaan. Itu urusannya mami dan para dayang dayang.

Tapi harus saya akui, ketegasan mami sangat berperan didalam membentuk pribadi saya saat ini. Mami pun termasuk figur yang disegani di Parak karambia. Sebagai single parent, mami cukup berhasil mendidik kami berlima, walau kakak yang tertua telah terlebih dahulu meninggalkan kami tahun 1979.

Saya termasuk tipe pendiam. Makanya tidak punya banyak teman. Saya memang lebih senang sendiri. Nulis cerpen. Pernah waktu SMA saya kirim hasil cerpen saya ke majalah khusus cerpen. Nama majalahnya saya malah lupa. Tapi dimuat lho cerpen nya. Sampai saya dapat surat dari beberapa cewek yang kemudian menjadi sahabat pena saya. Sayang sekali sejak kuliah di Jakarta sudah tidak pernah lagi saling kirim surat. Mungkin sudah sibuk urusan masing-masing, jadi lupa.

Kata orang saya termasuk anak pintar, walau tak sepintar kakak saya, uni Dessy dan adik saya Budi. Mereka jelas lebih pintar soalnya selalu juara kelas sejak SD, SMP dan SMA. Sedangkan saya biasa biasa saja. Ok lah tapi not that best. Tapi ketika masuk SMPN 2 Padang, prestasi malah jadi menurun. Sebenarnya bukan karena tambah bego. Gak adalah begitu ya. Cuma saya mulai berpikir untuk apa juara kelas. Kadang saya ingin berontak dengan stereotype anak pintar. Bodo amat. Kadang saya gak belajar malamnya walau besok mau ulangan. Bosan saya belajar terus. Apesnya nilai saya lumayan bagus dan kemudian malah diterima di SMAN 2 Padang. Katanya itu termasuk SMA yang top, whatever lah saya bilang.

Ada perasaan yang gak “in” ketika SMP dan SMA. Pikiran saya gak 100% ada di sekolahan. Saya memang suka baca buku Lima Sekawan. Petualangan lima sekawan yang berlokasi di Inggris sangat memenuhi otak saya. Memenuhi imajinasi saya. Sekolah bagi saya cuma memenuhi kewajiban saja. Saya selalu bergegas pulang untuk membaca cerita itu. Habis itu, saya pun membuat cerita sendiri sambil berbaring di kamar. Sendirian.

Tidak ada hal yang menarik selama saya di SMP dan SMA. Saya terlalu pemalu dan penakut untuk bicara bahkan dengan teman cowok sekalipun. Apalagi teman cewek. Makanya saya gak punya banyak teman, gak punya pacar apalagi…uppss. Tapi bukan berarti saya sombong lho. Jauh dari itu, Saya gak sombong, Cuma sedikit arrogant. Really? No, just kidding. Saya punya banyak teman lah. Paling tidak tau nama lah. Bisa saling sapa hai gitu. Paling tidak teman sekelas. Cuma teman deket, ya gak banyak. Waktu kelas 1 duabelas adalah Zulkarnaen, sabuk hitam Karate. Tapi sayang dia sudah almarhum. Kelas 2 IPA 4, saya dekat sama Indra, saya lupa nama panjangnya. Juga Winardi. Mereka berdua jago main bola. Saking deketnya saya dan Indra, kami diberi gelar Dono-Indro. Saya sih gak peduli. Tapi dia juga kemudian sudah almarhum saat saya kelas 3. Kenapa ya semua temen deket saya meninggal semua?

Saya sempat juga aktif main bola, tapi tidak terlalu jago mainnya. Hanya sekedar main, tanpa bisa menembus masuk tim nya SMA 2. Main basket juga gak bisa. Main Volley? Halah, apalagi itu. Gak nyampe servis nya ke seberang net.

Hanya satu yang bisa jadi kenangan, yaitu, entah bagaimana ceritanya, tiba tiba saja mulai belajar menari breakdance. Waktu itu kelas 3 SMA. Saya merasa bahwa dengan breakdance saya merasa bisa mengekspresikan emosi dan perasaan diri saat itu.

Breakdance bagi saya adalah satu sarana untuk melepaskan kemarahan dalam diri atas keadaan yang saya anggap tidak saya sukai. Banyak hal. Termasuk ketidakmampuan saya mengungkapkan perasaan suka terhadap seorang gadis, sehingga dia udah digandeng sama yang lain. Mungkin karena saat itu saya penakut dan tidak pede. Makanya, breakdance memberikan sarana untuk mengekspresikan perasaan saya. Sambil berharap, barangkali saja dia memperhatikan atau menonton saya bermain breakdance. Maybe.

Harus diakui memang, dengan jadi salah satu pelopor breakdance di SMA 2, saya jadi mulai dapat teman diluar kelas. Artinya, ada anak kelas lain yang mulai menyapa saya. Ada senang nya juga sih. Dan secara perlahan rasa percaya diri saya pun mulai meningkat. Telat ya, udah kelas tiga baru mulai pede. Saya malah jadi berani datang ke Lapau Ibuk didepan sekolahan. Dulu pas kelas 1 dan kelas 2, saya gak berani masuk ke Lapau Ibuk. Gak ada yang kenal. Paling beraninya lihat dari jauh. Gak pede blass.

Kalau dipikir pikir, saya itu sebernarnya aneh. Dibilang anak pintar, ya gak juga. Buktinya gak pernah juara kelas. Prestasi saya di SMA biasa biasa saja. Hanya berkisar di peringkat 3 dan 4 saja. Dibilang anak pemalas, ya gak bener. Dibilang anak nakal, wah keterlaluan sekali kalau ada yang ngomong gitu. Waktu saya disekolah banyak saya habiskan main bola, dan main breakdance. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa sebagai remaja, saya termasuk tipe pendiam namun berontak didalam. Saya gak suka belajar. Tapi juga gak suka jadi berandalan. Bukannya gak berani lho. Gak mau dan gak suka.

Jadi kalau ada yang belajar mau ulangan, saya suka nyindir, dalam hati tentu nya. Saya suka malas malasan buka buku. Namun saya berusaha mengerti saat pelajaran dijelaskan guru dikelas. Jadi gak perlu belajar keras dirumah. Mungkin itu sebabnya saya gak pernah juara kelas. Lagi pula saya memang gak minat. Gak minat jadi juara kelas, dan gak minat jadi anak pintar dan cerdas. Saya tipe rebellion. Makanya filem yang sangat senang saya tonton adalah “The Outsider”, tentang pertarungan gengsi antara kelompok anak kaya dengan kelompok anak miskin. Saya memposisikan diri saya sebagai anak miskin. Anak miskin yang ganteng, hihihihi. Gak boleh protes. Aktor favorit saya adalah si Matt Dillon. Tapi, dari sisi ke-pede-an, saya itu ibaratnya The ugly duckling, dalam dunia HC. Andersen. Kalau dihitung skala 1 sangat pede, dan 5 sangat tidak pede, maka saya di skala 5 itu. Lagu yang saya suka: Bohemian Rhapsody dari Queen. Terus juga Stairway to Heave nya Led Zeppelin. Pas sudah. Komplit sudah memposisikan diri sebagai “The rebellion”. At same time, I am a mellow person. Saya senang lagu Hello nya Lionel Richie, because it reminds me something beautiful.

Nah, dengan dua sifat yang bertolak belakang itu, rebellion mellow, maka justru ini kayak nya yang bikin saya gak berani. Kalau mau jujur sebenarnya, kelas 2 is my best year ever. Why? Because on that time I have found something really special. Lagu yang cocok menggambarkan keadaan itu adalah lagu Heaven nya Bryan Adam. Lagu setengah rock, but mellow, I guess.

 

Oh once in your life you find someone

Who will turn your world around

Bring you up when you’re feelin’ down

 

Yeah nothin’ could change what you mean to me

Oh there’s lots that I could say

But just hold me now

‘Cause our love will light the way

 

Kelas 3, hmmm, not too bad. Saya mulai nambah pede dikit, walau terlambat. Mungkin karena udah nothing to loose. Udah kelas 3. Lagi pula, entah kenapa, saya kok merasa tertantang. Merasa sebagai pihak yang kalah, jadinya seperti dalam film The Outsider tadi. Seperti yang pernah dikemukakan sama Jose Maurinho saat Chelsea lagi dimusuhi orang; me against the world. The hell with them. Ditambah mulai sering breakdance. Jadilah saya semakin bisa mengekspresikan perasaan marah dalam diri. Sifat itu mungkin karena tidak ada papi yang jadi teman bicara atau teman berbagi cerita. Mungkin kalau papi masih ada, saya gak akan begitu kali ya..? But, you never know.

Ketidak pedean dan kemasabodohan itu mengimbas juga ketika ada pengumuman untuk mengisi formulir PMDK, saya ogah-ogahan. Saya pikir, mana mungkin diterima. Wong juara kelas saja tidak, pikir saya. Mau milih apa dan di Universitas mana? Saya malah nanya uni Desi. Akhirnya atas saran dia, saya milih Teknik Mesin dan Teknik Sipil di Univeristas Indonesia. Kok gak ITB? Gak keluar ijin dari mami untuk kuliah di Bandung. Biasa. Stereotype nya orang Padang yang curiga sama suku lain.

Eh, pas pengumuman, saya diterima di Teknik Mesin Universitas Indonesia. Lucky me? I don’t know. Tapi yang jelas alhamdulillah. Alhamdulillah karena gak perlu sibuk sibuk daftar Sipenmaru yang artinya gak perlu sibuk belajar lagi habis EBTANAS. Hghhh. Lega rasanya gak perlu belajar lagi. Udah bosen belajar.

2 thoughts on “Chapter-3: Masa di Padang

  • Salam kenal uda. Ambo lulusan UI teknik elektro dari padang jga.

    mantap pengalamannya uda terutama untuk engineer muda kayak saya.

    Salam

    Muhamad Apriyudi

    Reply
  • Salam kenal kembali Muhammad…semoga sukses dalam karir dan dalam kehidupan nya….Insya Allah…..Aamiinn

    Reply

Leave a Reply