Antara Takdir, Usaha dan Rod Stewart

testPernahkah anda merasa berada dalam titik nadir terendah dan merasa putus asa? Pernahkah anda “merasa”sudah berbuat baik, sholat rajin, berdoa sudah, tapi kok ya nasib gak berubah, masih “gini gini aja”?

Terus lagi, pernahkan anda kemudian mendongak ke atas, sambil menyapa Allah dan ngomong sama Allah dengan nada marah: Kenapa? Why me?

Jika ya, you’re not alone, my friend.

Saya dulu mikir juga, didalam setiap keberhasilan seseorang, apakah itu murni tindakan dia ataukah ada campur tangan Allah disitu? Dan didalam kegagalan seseorang, apakah disitu juga ada campur tangan Allah?

Bukankah tinta Allah sudah kering ketika menulis tentang tiga hal: umur, rezeki dan jodoh, di kitab Lauhul Maufuz, yang notabene mengatakan bahwa kata sudah tahu kapan akan mati, berapa kekayaan kita dan siapa jodoh kita?

Kalau begitu, buat apa lagi berusaha, belajar, bekerja atau berdoa?

Makanya ada paham Jabariyah dan Qadhariyah.

Secara singkat, Jabariyah adalah paham yang berkeyakinan bahwa apapun ayng dilakukan oleh Manusia bukanlah atas kemauannya sendiri, tapi paksaan terhadap dia dari Tuhan.

Sedangkan Qadhariyah, bahwa semua tindakan dan upayamanusia tidaklah ada hubungannya sama Tuhan.

Menurut saya gimana?

Kalau mau tahu menurut saya, kita harus balik lagi ke “sejarah kehidupan saya” sejak lulus SMA di Padang. Nostalgia lagi deh…..hihihihihi.

Saya termasuk murid yang biasa biasa saja, nggak terlalu pintar dan tidak pula terlalu bodoh. Sedang-sedang sajalah (baca pakai dialek Medan yaa). Saya gak pernah juara 1 di kelas jaman itu. Paling tinggi, juara 3 kelas lah. Kalau ditanya orang tua, alasannya klise: “Soalnya di kelas saya berkumpulnya anak anak pintar semua”.. ๐Ÿ™‚

Lulus SMA, “saya beruntung” diterima di FTUI Mesin melalui PMDK. Di undang, katanya, tanpa test lah. Saya sebenarnya gak mau kuliah di UI, maunya di ITB, tapi dilarang oleh mami tercinta. Alasannya takut diambil cewek Bandung. (upsss…sorry). Akhirnya, saya pun agak malas malasan kuliah.

Asal tahu aja, IP saya tahun 1 itu pas pasan…2.2 (hahahhaaha…boleh ketawa sekarang). Semua dapat C, kecuali Agama Islam dan P4. Lha iya. wong orang gak mau kuliah di Jakarta, alhasil kerjanya cuma ngukur jalan Jakarta dari Salemba ke Blok M sampai Pasar Ular Plumpang.

Tahun 1986 ada kesempatan test program beasiswa Habibie ke German, Inggris, Jepang. Ikut. Gagal. Apes kan.

Walhasil, terpaksalah tetap di FTUI Jurusan Mesin. Untuk ada bola, jadilah oemain bola Mesin dan akhirnya terpilih mewakili FTUI di kejuaran se Fakultas di UI. Itu yang bikin semangat datang ke Depok. Kuliah nomor dua lah…

Tahun 1990 dapat kerjaan di IKPT, belum lulus waktu itu.

Pas lulus, mau nyari kerjaan lain, kok gak bisa bisa. Padahal ngirim lamaran udah gak terkira banyaknya. Sampai bosan kali tukang pos di Tebet ngeliat saya. Dulu belum ada email emailan.

Usaha terus pokoknya, sambil berdoa.

Tahun 1995, usaha dan doanya berhenti dulu. Soalnya dikirim ke Los Angeles, California. Tahun 1997 malah di kirim ke Inggris, jadi malah gak sempat lagi berdoa minta pindah. Oh ya, waktu itu, saya baru married, itu juga doa nya panjang dan lamaa…soalnyagak dapat pacar terus… ๐Ÿ™‚

Pulang dari Inggris disambut sama kerusuhan 1998, bikin saya pengen balik ke Inggris lagi saat itu juga. Yah gak bisa dong, siapa yang ngirim ke Inggris…

2004 baru saya bisa ke Inggris, bukan lagi di kirim kantor.

Nah, kalau ditarik benang merahnya; dan dihubungkan dengan paham Jabariyah dan Qadhariyah, gimana hayoo?

Apakah kalau saya diam saja, terus aja ngukur jalanan jakarta, apa saya bisa lulus? Kan semua sudah ditentukan oleh Allah, kata si Jabariyah.

Apakah kalau saya gak buang waktu ngirim lamaran, terus adem ayem aja di kantor yang lama, apakah saya akan bisa akhirnya dikirim ke LA dan kemudian ke London? Kan sudah ditentukan oleh Allah, katanya si Jabariyah.

Juga, ketika saya lama gak dapat pacar, dan kemudian mami saya jodohin saya sama cewek Padang, dan saya mau misalnya, gak jadi kawin sama yang sekarang dong…kan semua sudah ditentukan oleh Allah, kata Jabariyah…

Atau sebaliknya, smeua tadi itu, adalah usaha saya tanpa camur tangan Allah? Bah..tak berani lah saya ngomong gitu…

Menurut saya, saya tidak menganut paham Jabariyah, tidak pula Qadhariyah. Tapi saya di tengah-tengah. Saya berusaha sekeras mungkin, the BEST I COULD, berdoa, dan hasilnya saya serahkan sama Allah, yang pasti tahu yang terbaik untuk saya.

Hahhahah..gayanya nya..sekarang bisa ngomong begitu..duluuu..pas hal itu menimpa kita, pasti ngomel sama Allah …kan?

Biasalah…anak muda..

Tapi itu pembelajaran , menurut saya. Sejak kecil saya sudah diajar mengaji oleh ustad yang dipanggil kerumah. Sudah diajarkan sholat di Mesjid, walau cuma Maghrib dan Isya saja…Subuh nya takut ke Mesjid, lumayan jauh soalnya.Lagian perginya sendiri..Papi udah dipanggil menghadap Allah SWT pas saya umur 3 tahun.

Jadi, ketika saya ke Jakarta dan Iman saya dibolak balik oleh keadaan, saya masih bisa tetap Istiqomah.

Apakah itu semua sudah kehendak Allah? Kalau ditanya sekarang, ya begitu jawabannya. Kalau di tanya pas kejadian, lagi hot hot nya, mungkin jawaban saya lain. Bisa jadi ya, tapi ada nada pasrah disitu.

Tapi, saya gak begitu. Saya gak mau menerima nasib begitu saja terhadap saya.

Saya mesti fight. Saya mesti berhasil. The hell with everybody. I must succeed. Saya selalu berdoa kepada Allah. Ketika lai down, karena gagal, saya juga berdoa, sambil ngomel pastinya… ๐Ÿ™‚

Nah, kembali ke pertanyaan diatas, apakah semua kehendak Allah sesuai yang sudah tertulis di lauhul maufuz?

Ada ustad bilang bahwa bahkan ketika kita berdoa untuk meminta pertolongan ALlah SWT, juga merupakan bagian dari takdir itu sendiri…bagian dari yang tertulis di Lauhul Muufuz..

Last question…gimana soal jodoh saya yang telat datangnya?

Ahhh…..sayup sayup terdengan suara Abang saya, Rod Stewart…

I don’t want to talk about it, how you broke my heart.
If I stay here just a little bit longer,
If I stay here, won’t you listen to my heart, whoa, heart?
I don’t want to talk about it, how you broke this ol’ heart.

 

Leave a Reply