Don’t Look Back in Anger

Sedikit bergegas saya menutup pintu rumah. Sambil menarik nafas dalam-dalam, kaki pun melangkah meninggalkan rumah.

Pagi ini, pagi yang indah sekali. Cerah. Matahari sudah keluar dari peraduannya. Tapi tabung mercury  masih berkisar di angka 7 C. Sisa hujan semalam masih membekas dijalanan yang basah, didedaunan yang berembun, di hati yang sumringah. Juga dikaca mobil yang dibiarkan parkir diluaran oleh pemiliknya.

Hmm. Selamat datang musim semi. Musim bercinta.

Musim semi adalah musim yang sangat indah. Pohon mulai hidup. Kembang pun mulai berbenah untuk menampilkan rona yang seronok. Dedaunan pun berebutan untuk keluar untuk bercumbu dan merasakan hangatnya elusan sang Matahari.

Selamat tinggal musim dingin yang pekat dan gelap. Beku menerpa kala angin dingin dari utara datang menerjang. Selamat tinggal juga overcoat, jacket tebal dan topi bulu.

Selamat tinggal juga tak lupa bagi kuping yang suka kedinginan, hidung yang memerah menahan tamparan angin dan hujan es.

Ketika musim semi tiba, tak terhingga rasanya nikmat Allah Subhanahuwata’ala yang telah dilimpahkan bagi alam beserta penghuninya.

Lima menit berjalan menyusuri pagi nan indah, sampailah di stasiun Wimbledon. Segera saya memasuki Platform 1 menuju Underground Train yang akan segera melaju membawa saya ke Paddington.

Begitu pas memasuki pintu kereta, isyarat pun berbunyi tanda Train akan segera berjalan. Karena masih pagi, saya pun bisa memilih duduk semaunya. Kali ini saya memilih didekat jendela. Di luar jendela, masih terlihat tetesan embun yang seakan berlari ketika Train mulai melaju sedikit lebih cepat.

Tanpa terasa pikiran saya melayang 11000 km, jauh ke Jakarta. Masih jelas terbayang saat saya mulai di terima bekerja di Perusahaan Engineering di daerah Saharjo, Pancoran. Saat itu, bekerja di perusahaan tersebut bukanlah impian para Insinyur yang baru lulus. Hampir semua teman saya lebih memilih bekerja di Perusahaan Minyak ternama yang ada di Indonesia.

Saya bukannya gak mau. Cuma belum beruntung dan juga saya termasuk yang “sok memilih” dan gak mau kerja di tengah laut. Beberapa kali coba melamar, tapi yah itu tadi, belum beruntung.

Alhasil, bertahan di perusahaan yang sama sampai 12 tahun kemudian, walau sambil sesekali larak lirik masih mencoba melamar di perusahaan lain.

Tapi, sekarang, setelah sampai akhirnya di London, setelah berhasil lolos dapat Visa Kerja sendiri tanpa perlu sponsor, terus dapat kerja sendiri juga tanpa harus nunggu dikirim ama kantor, ada sedikit kebanggaan tersirat dalam dada.

Harus saya akui memang, kalau misalnya dulu saya ngotot pindah perusahaan, bisa jadi saya gak bakalan bisa duduk santai di Underground Train menyusuri pinggiran sejuk Wimbledon menuju Paddington.

Memang kita tidak pernah tahu nasib kita seperti apa,  apa yang kita anggap baik, menurut Allah belum tentu baik untuk kita.

Sayup sayup kedengaran suara Noel dari Oasis..

So, Sally can wait
She knows it’s too late as we’re walking on by
Her soul slides away
But don’t look back in anger
I heard you say

Leave a Reply