Don’t Lose Your Muscle

Ini bukan soal body builder. Bukan ngomongin soal otot lho. Tapi ini soal hilangnya keahlian di bidang spesialisasi anda. Ceritanya begini.

Awal karir saya di Perusahaan Engineering adalah sebagai Piping Stress Engineer, atau dulu kita termasuk group “Stress Boy”…hahhahah..jangan salahya…bukan Insinyur Muda yang lagi stress karena belum punya pacar, bukan itu, walaupun gak bisa dipungkiri memang waktu itu para Stress Boy belum ada yang punya pacar… 🙂 Mungkin karena kelamaan berkencan dengan pipa dan analisanya sampai sampai sering pulang malam. Ah jadi keterusan ngomongin soal belum punya pacar waktu baru lulus.

Where were we?

Ok. Sebagai Piping Stress Engineer, saya biasa bicara detail dan nyari data sampai printil printil dan bikin drawing sampai se detail detailnya, dan kemudian meng INPUT ke CAESAR II atau juga AUTOPIPE. Hasil hitungan kemudian diperiksa lagi, kalau tersambung ke Pompa, Turbine, Compressors, Tankage, mesti dicheck lagi besarnya Forces and Moment imposed, terhadap besarnya gaya yang diizinkan oleh Manufacture atau juga dari Standard yang ada. Ada rasa bangga yang gak bisa dituliskan dengan kata kata kalau bisa dan mampu memecahkan masalah hitungan yang rumit. Puass pokok nya.

Kita bisa merubah layout piping demi alasan keamanan operasional system yang utama nya disebabkan oleh pipa yang “Overstress” atau karena beban yang berlebihan yang derima oleh nozzlwe equipment.

Kita bahkan juga bisa ngomong sama Manufacture untuk mendapatkan berapa sih sebenarnya maksimum gaya yang bisa diterima equipment.

Kemampuan untuk memecahkan hitungan mulai dari yang sederhana sampai yang tinggi tingkat kesulitannya itu hanya bisa dicapai melalui proses belajar dan praktek langsung di study case pada project project besar, seperti Petrokimia Project, Oil Refinery, dan LNG Project. Makanya, para Stress Boy yang pernah jadi teman kerja saya saat di Los Angeles, London, Singapore, jarang yang masih muda. Sudah tua semua.

Semakin banyak kita ikut langsung terlibat di project yang bermutu tinggi dalam hal tingkat kesulitan perhitungan Stress Analysis, maka makin terasah lah otak kita dan secara tidak langsung “build your muscle” dalam hal ke-Stress-Analysis-an.

Hal itu lah, yang mampu membawa saya kerja di Los Angeles, London, Singapore dan kini di Saudi Arabia. Walau cuma lulusan S1 dari Teknik Mesin padahal.

Sekarang, sejak pindah ke Saudi Aramco, secara perlahan tapi pasti, saya sudah mulai meninggalkan per-Stress-Analysis-an. Saya mulai banyak melakukan review, stress analysis juga, tapi gak cuma itu. Saya juga di haruskan me-review piping layout, valves, dan kemudian ketika construction harus men-manage kontraktor didalam melakukan pekerjaan konstruksi, baik dari sis progress, koordinasi dengan instansi lain, serta me solve semua Field Engineering issues.

Ada dua hal yang sangat berbeda disini: dulu semasa di London, saya melakukan sendiri semua hitungan dan analisa. I am the Specialist. Sekarang, saya hanya me-menage kerjaan, me-manage hitungan dan analisa yang dilakukan oleh Construction Contractor dan EPC Company. Saya bertanggung jawab terhadap progress pekerjaan di area yang saya pegang, menerima laporan dari Project Managernya EPC dan Construction Contractor dan selanjutnya memberikan laporan ke Project Manager saya.

Big jump, menurut saya. Saya agak “struggling”awalnya, tahun 2009.

Saya sempat berpikir: “Wow..This is exactly when I started back in 1990 as a new Fresh Engineer”.

Really…?

Gak lah. Ada bedanya. 2009, saya udah confident dengan keahlian saya di Piping Stress Analysis dan sudah berhadapan dengan engineer dari manca negara dan sudah sering diskusi dengan mereka. It builds my confident. I am not that raw as 1990 when just graduate.

Jadi, dengan bekal ilmu yang lebih dari cukup, saya sangat percaya diri ketika diberi tugas yang sangat berbeda dengan experience selama ini. Dan terbukti toh, saya mamu bertahan sampa tahun ke 8 di Aramco dan “with good amount of progress in my career”

Tapi, walaupun saya sudah lebih banyak di Project Management , saya tidak mau begitu saja menghilangkan dan melupakan ilmu dan keahlian piping stress yang sudah lama saya dapatkan. Karena di pekerjaan tidak lah terpakai 100 persen, maka saya pun belajar sendiri, dan salah satunya bikin buku yang sdah terbit dua edisi ini.

So, pesan saya ke Engineer specialist, jika ada kesempatan jadi Project Engineer, just grab it without even think about it. You will be succeed. But one thing you should remember, keep reading books, codes, standards in your specialty, because you never know what comes next. Whatever happen and come, you will be ready.

Remember, Don’t lose your muscle.

 

Leave a Reply