Saya perbaiki judulnya sedikit ya, biar kesannya tidak terlalu bleak.

Saat ini, secara resmi Inggris atau lebih dikenal dengan nama United Kingdom masih termasuk dalam 5 besar Negara Raksasa Ekonomi Dunia, paling tidak dilihat dari GDP. Negara terbesar GDP nya berturut-turut adalah USA, Japan Germany, dan China, baru terakhir dalam urutan 5 besar adalah United Kingdom.

Diantara ke lima negara besar tersebut, empat sudah secara resmi dinyatakan dalam kondisi resesi, yang berarti perekonomian mereka “kontraksi” dalam dua kuarter berturut-turut. Hanya China yang belum.

Inggris, Jumat kemaren, melalui data yang dikeluarkan oleh Badan Statistik National (Office for National Statistic, ONS) bahwa perekonomian Inggris (output) turun1.5% dalam 3 bulan terakhir, setelah periode sebelumnya juga drop 0.6%. Secara teknis, jika perekonomian berkontraksi dalam dua kurater berturut-turut, maka sebuah negara sudah bisa dikategorikan dalam keadaan resesi (recession).

John Rodgers, guru Investment yang juga merupakan co-founder Quantum Fund dengan George Soros bahkan sudah nekat mengumbar di media bahwa ekonomi Inggris sudah “habis”.

Ada dua sebenarnya penopang ekonomi Inggris, yaitu Financial District di City of London dan Minyak dan gas di North Sea. Manufacture jelas bukan sisi yang paling diutamakan di Inggris, sebagaimana halnya dengan negara maju, yang menganggap “pabrik” adalah milik negara miskin dan berkembang. Walaupun pada kenyataannya banyak juga manufacture di Inggris seperti Petrochemical, tapi kontribusinya terahdap GDP tidak lah besar.

Dari total GDP Inggris yang US$2.78 Trillion, maka 73.4 % datangnya dari Sektor Finacial Service di City of London, sedangkan dari Maufacture, Oil and Gas sebesar 25.6%, dan 1% dari Agriculture.

Jadi, bisa dengan mudah kita lihat bahwa dengan runtuhnya Sektor Financial Service di Inggris, dan diikuti dengan anjloknya harga minyak, maka bisa dikatakan runtuhlah fondasi ekonomi Inggris.

Kita tahu bahwa orang Inggris hidup dan besar dalam hutang. Sebut apa saja, mulai dari yang umum: mortgage yang bisa melebihi kemampuan dia buat bayar, kartu kredit dengan limit yang juga sangat tinggi, dan mudahnya untuk mendapatkan kartu kredit, sehingga satu orang bisa punya lebih dari 3 kartu kredit, personal loan yang gampang minjem uang ke Bank buat holiday, betulin rumah, Car Loan buat beli mobil, Store Card dan yang terakhir fasilitas overdraft dari rekening kita di Bank, yang sangat membuat lupa diri.

Dulu, ketika ekonomi bagus, semua masih kerja, maka hal itu belum terasa.

Awalnya ketika banyak kredit rumah di US diberikan tanpa prinsip kehati-hatian, sehingga ketika tidak mampu bayar cicilan, mulai lah timbul masalah. Kalau satu yang tidak bayar cicilan, gak masalah, rumah bisa dijual dengan mudah. Tapi kalau yang nggak mampu bayar cicilan ribuan orang, akhirnya rumah yang mau dijual pun jumlahnya ribuan. Akibatnya, over supply, harga jatuh. Sialnya lagi, Bank yang d mortgage pun punya tali temali dan sangkut paut dengan Bank dan lembaga lainnya. Lengkap sudah penderitaan.

Inggris yang merupakan saudara kandung US, mulanya sih gak percaya akan terkena imbas. Tapi, karena banyaknya pertalian antara Bank-bank di US dengan di Inggris, ditambah dengan pola hidup masyarakat Inggris yang hidup dan besar dalam hutang, maka hanya tinggal menunggu waktu saja pecahnya “buble” tersebut.

June 2008, waktu itu harga minyak mentah dunia masih berada pada US$147 per barrel. North Sea Oil and Gas dan seluruh Oil Company di dunia masih bisa pesta pora.

Tapi, semuanya pasti saling berhubungan. Ketika sektor finansial jatuh, maka saya pikir keruntuhan sektor lainnya hanya tinggal tunggu waktu.

Harga minyak tinggi, membuat ongkos produksi di pabrik jadi meningkat karena tingginya harga bahan bakar solar atau diesel untuk keperluan listrik pabriknya. Belum lagi harga bensin premium untuk kendaraan yang tentu saja menaikan ongkos transportasi, baik darat, laut maupun udara. Alhasil, ongkos produksi akan jadi tinggi, sehingga harga-harga pun terpaksa di naikkan.

Selama ada daya beli, nggak masalah. Ketika Amerika Serikat, negara peng-konsumsi terbesar dalam hal apa saja mulai goyah dan akhirnya mengurangi pembelian , siapa yang akan beli barang-barang yang tidak terjual tersebut? Nggak ada.

Akhirnya barang menumpuk di gudang pertokoan. Pemilik toko kemudian mengatakan kepada distributor untuk tidak dulu mengirim barang. Sang distributor pun bilang sama Pabrik, jangan dikirim dulu. Satu bulan, pabrik masih oke. Dua bulan, tiga bulan, pabrik mulai mikir, untuk mengurangi produksi. Akhirnya, karena permintaan tak kunjung datang, pabrikpun memilih mengurangi pegawai. Stop produksi.

Ketika mesin pabrik berhenti menderu, maka pabrik tidak butuh bahan bakar lagi. Bahkan ketika sudah ada tanda-tanda pengurangan permintaan, pabrik biasanya sudah meminta kepada distributor bahan bakarnya untuk mengurangi jatah pengirimannya.

Sekarang, ketika pabrik berhenti total, berhenti pulalah pengiriman bahan bakar ke pabrik tersebut.
satu pabrik minta stop supply bahan bakar, baik batu bara maupun minyak.

Berkurangnya permintaan dan penggunaan BBM didunia, sementara produksi minyak dari setiap perusahaan Minyak dunia sedang digenjot kencang tergoda tinginya harga minyak. Akhirnya berlakulah hukum ekonom: Supply banyak, demand sedikit, akhirnya harga turun.

Turunya harga minyak ini jelas diluar perkiraan para juragan minyak. Bayangkan, sekarang saja, hari ini, harga minyak sudah di level US$40 per barrell, anjlok lebih dari US$100 per barrel dalam waktu kurang dari 6 bulan.

Walaupun OPEC sudah memangkas produksi minyaknya sampai 2.2 Juta barrel per hari, tetap saja tidak banyak membantu. Masalah utamanya adalah rontoknya daya beli Amerika Serikat, sang pengkonsumsi terbesar minyak dunia.

Saat ini, bisa dikatakan hampir semua sektor sudah terkena imbas dari krisis finansial global ini. Termasuk sektro perminyakan.

Dalam sektor perminyakan, ada Lima pemain utama:

  1. Oil Company sebagai Pemilik dan operator dari kilang minyak maupun ladang minyak itu sendiri
  2. Oil Service Company, seperti Schlumberger dan Haliburton
  3. Engineering Company, seperti Bechtel, KBR dll
  4. Fabricator, seperti Mac Dermot dll
  5. Vendor/Supplier dan lain-lain

Saat ini, ketika harga minyak turun, maka seluruh perusahaan minyak sedang memangkas produksi mereka, setidaknya untuk tahun 2009 ini. Bahkan bisa dipastikan untuk tahun 2009 ini tidak akan ada project baru dibidang Minyak akan dibangun, kecuali sangat-sangat penting, itu pun biasanya untuk kebutuhan dalam negeri.

Dalam hal perekrutan pegawai baru, kebanyakan perusahaan Minyak sedang dalam tahap menunggu, dalam artian tidak akan ada perekrutan tenaga baru, kecuali sangat diperlukan.

Efek selanjutnya akan dan sudah dirasakan adalah oleh Service Company, karena permintaan untuk Drilling sudah menurun drastis, misalnya. Kita sudah tahu bahw Schlumberger akan memberhentikan 1000 pekerjanya di US, dan akan meneruskan ke pekerja di Aberdeen, pusat perminyakan Inggris.

Setelah itu, biasanya yang akan kena adalah Engineering Company. Saat ini bisa dikatakan hampir semua project EPC ditangguhkan, kecuali yang sudah teken kontrak sebelum nya. Itu pun biasanya minta dinegosiasi lagi.

Efeknya akan kemana-mana, seperti fabrikasi, dan ke vendor.

Kesimpulan

Kondisi tahun 2009 akan semakin berat, mengingat saling keterkaitan antara sektor financial dengan Oil and Gas serta manufacture.

Dengan harga Minyak yang masih dilevel US$40, adalah berat bagi Oil Company untuk bisa expand. Banyak project Sand Oil di Canada sudah di stop, karena sudah tidak ekonomis lagi untuk diteruskan dalam harga minyak saat ini.

Saudi Arabia sendiri mengatkan bahwa harga minyak yang ideal adalah US$75 per barrel, padahal kita tahu bahwa ongkos produksi minyak di Saudi Arabia hanyalah US$5 per barrell, bahkan ada yang dibawah itu.

Harga minyak tidak akan bisa ke level tersebut selama orang amerika memilih naik sepeda daripada mengendarai mobil, dan selama orang amerika dan orang Inggris nggak punya duit untuk beli barang-barang, yang akan memutar ekonomi.

Orang Amerika dan orang Inggris tidak akan bisa punya uang jika mereka nggak punya kerjaan alias jobless. Agar gak jobless, maka pabrik-pabrik serta bank-bank mesti berjalan normal. Padahal Bank-bank kehabisan duit.

Banyak investor asing yang menarik dana mereka dari Bank-bank Inggris khawatir akan kondisi yang makin memburuk, sehingga secara tidak langsung membuat nilai poundsterling jatuh terpuruk menjadi 1 GBP = 1.3668 USD, terjelek dalam 24 tahun terakhir. Bandingkan dengan situasi awal tahun 2008 dimana 1 pound sama dengan 2 US dollar.

Pada saat ini Bank-bank di Inggris kesulitan untuk mendapatkan dana segar dari pihak ketiga, karena rendahnya kepercayaan inestor terhadap kemampuan ekonomi Inggris. Sehingga hampir seluruh Bank di Inggris, kecuali Barclay Bank, sudah menjadi milik negara baik sebagian besar ataupun seluruh sahamnya.

Ini sebenarnya menjadi sebuah dilemma bagi Pemerintahan Gordon Brown. Disatu sisi dia ingin agar Bank-bank segera mengucurkan kredit yang lagi dibutuhkan oleh banyak perusahaan dan industri di Inggris.

Dilain pihak, Bank-bank enggan mengucurkan kredit karena takut kreditnya malah jadi tambah macet, yang pada akhirnya akan bikin balance mereka jadi merah lagi.

Alhasil, walupun sudah menggelontorkan dana milik publik sebesar puluhan milliar poundsterling, tapi hasilnya belum menunjukan yang diinginkan.

Yang menjadi pertanyaan adalah sampai seberapa jauh Gordon Brown akan terus-terusan mengucurkan dana serta sampai seberapa besar dana yang ada? Akankah Inggris akan jatuh lagi kedalam pelukan IMF seperti pernah terjadi pada tahun 1976 semasa Denis Healey menjadi Chancellor of the Exchequer.

Yang jelas, minggu ini Bank Of England akan meeting lagi untuk memangkas suku bunga menjadi 1%, dan yang penting lagi, BoE akan punya senjata baru dengan diijinkannya BoE untuk mencetak uang, jika diperlukan.

Mencari kerja di Inggris sekarang tidaklah semudah dulu, terutama di sektor yang paling parah terkena krisis, yaitu financial dan insurance.

Walaupun begitu, outlook 2009 tidaklah semuanya suram, tetap saja ada bagian yang malah lagi booming dan menjadi sektor yang masih terbuka menerima pelamar baru:

  1. Social Housing, untuk semua sektor mulai dari Accountant sampai builder
  2. Civil Engineer, untuk infrastructure project, seperti London Cross Rail
  3. Renewable Energy Specialist, di Scotland, karena SNP mempunyai Green Energy Strategy
  4. Public Sector, seperti doctor, nurse, teacher, professional finance for state-run bodies.
  5. Financial Risk and Compliance Specialist

Engineering: masih ada kesempatan kerja di bidang Engineering terutama pada bagian maintenance, dan project-project skala kecil dan sedang.

Jadi, jika anda punya skill, nggak usah takut, masih ada light at the end of tunnel.

12 Comments »

  1. Indonesia mungkin secara fundamental lebih kuat ekonominya daripada negara-negara maju itu.. Hidup orang2nya terutama yang di kota kecil/kampung kebanyakan bukan dari hutang. Budaya konsumtif yang mulai menulari itu yang buat bahaya.. besar pasak daripada celana..eh.. maaf tiang..

    Like

  2. malu ni ngoment-nya.. 😛
    akhirnya aku lebih paham ttg krisis global setelah baca tulisan diatas.. maklum ibu2.. nalarnya suka lambat dg hal beginian..
    thx infonya pak donn..
    daku tambah bisa ngerasain ribetnya mengendalikan ekonomi negara..

    buat yg doyan ngritik pemerintah.. pahami dulu deh bacaan ini.. baru coba usulkan solusi terbaik.. jangan asal nyablak aja.. *sentimen* hehehe..

    Like

  3. eka,

    Saya pikir sektor Telekomunikasi masih cukup kuat bertahan diterpa angin krisis ini. terutama yang mempunyai kustomer perusahaan seperti TV, dan individu yang membutuhkan jalur komunikasi ini.

    Like

  4. O gitu ya pak… Kebetulan lingkup kerja skrg di telco di salah satu operator GSM (sebelumnya pernah jg di vendor) ngurusin core planning. Semoga aja masih ada kesempatan ya, pak… Oya, kalo gak keberatan boleh minta japri Bapak buat konsultasi…. Send to my mail aja pak… Thanks a lot.

    Like

  5. Pak Don, saya Didit Akhmad Triadi kalo boleh saya daftar pesan bukunya, alamat saya di Jl. TB. Badarudin RT.08/RW.02 no.37 Kecamatan Pulo Gadung Kelurahan Jatinegara Kaum.

    Untuk pembayaran no rek. bisa diemail ke didit.triadi@yahoo.com.

    Salam,
    Didit Akhmad Triadi

    Like

  6. Pak Donny , bersyukur sekali saya menemukan blog Anda yg bisa membantu saya .
    Kebetulan , saya obsesi sekali dan berencana meneruskan pendidikan saya di UK .

    Namun saya lihat Pak Donny jarang online lagi sepertinya (saya baca dari komentar satu ke komentar yg lain , sehingga sedikit tahu) .

    Bolehkah saya minta alamat e-mail Bapak ? terima kasih , sebelumnya .

    Like

  7. Thx 4 sharing..
    Akan lebihh bagus lagi jika diupdate pd kondisi sekarang.
    Orang indonesia musti lebih banyak lg yg belajar ilmu financial. Biar tambah maju bangsa ini.
    Sy sj lulusan teknik

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.