My Story

Bisakah Kita Merobah Takdir?

Sejak dulu, ketika mengikuti pengajian, saya selalu diberitahukan bahwa tiga hal sudah ditetapkan sebelum kita lahir, rezeki, jodoh, dan maut.

Itu kan sama halnya dengan memberikan suatu kepastian sebelum sebuah peristiwa terjadi.

Benarkah seseorang sudah ditetapkan menjadi kaya atau miskin sebelum dia muncul ke dunia? Benarkah jodoh seseorang sudah dituliskan di kitab nan nyata di lauhul mahfuz? Benarkah tanggal kematian kita sudah ditetapkan?

Lalu apa gunanya kita berpayah-payah mencari rezeki jika sesuatu telah ditetapkan?

Mengapa kita tidak menunggu saja sampai jodoh datang menghampiri kita?

Tidak kah bisa seseorang merobah format hidupnya, yang dia sendiri pun tidak tahu?

Saya mengetahui bahwa ada dua aliran tentang hal ini:

  1. Aliran Jabariyah: yaitu kelompok yang melihat segala sesuatu berlangsung dengan takdir Ilahi, sehingga manusia adalah makhluk yang ‘majbur’ (terpaksa, tidak memiliki pilihan).
  2. Aliran Qadhariyah: mereka melihat bahwa manusia dapat memilih dan memiliki kebebasan mengatakan bahwa tak sesuatupun telah ditakdirkan.

Kalau kita buka Al-Quran, kata-kata dan keterangan tentang lauh mahfuz ada tercantum dalam 16 Surat yang masing-masing satu ayat, yaitu;

  1. Surat 6: Ayat 59
  2. 7:37
  3. 10:61
  4. 11:6
  5. 13:39
  6. 17:58
  7. 21:105
  8. 22:70
  9. 27:75
  10. 34:3
  11. 35:11
  12. 36:12
  13. 43:4
  14. 56:78
  15. 57:22
  16. 85:22

Ke-16 ayat di 16 surat tadi menceritakan bagaimana Allah mengetahui apa yang kita lakukan, apa yang akan terjadi.

Contoh Surat 10 Ayat 61:

    Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz).

Tentang Umur disebutkan pada surat Fathir Ayat 11 (35;11):

    Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lohmahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.

Tentang Rezeki, Allah katakan dalam Surat Hud Ayat 6 (11:6):

    Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

Tentang bencana Allah nyatakan dalam Surat Al Hadiid Ayat 22 (57:22)

    Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Saya mempunyai pendapat bahwa apa yang ditulis di lauhul mahfuz adalah hal-hal yang akan terjadi yang akan diputuskan oleh Allah pada waktunya. Dengan kata lain, semua itu masih berupa kemungkinan yang akan diberikan oleh Allah.

Dalam Al-Quran sendiri, Allah menyebutkan pada surat Adz Dzaariyat Ayat 58 (51:58):

    Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Masalah memberikan atau menyempitkan rezeki ini, secara khusus dalam Al-Quran Allah menyebutkan di 9 Surat:

  1. 13:26: Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
  2. 17:30: Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambanya
  3. 29:62: Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
  4. 30:37: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman
  5. 34:39: Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
  6. 39:52: Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.
  7. 42:12:Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
  8. 42:19: Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
  9. 42:27: Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Intinya Allah menyatakan bahwa Allah lah yang meluaskan rezeki dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki. Artinya lagi ini dilakukan ketika kita sudah didunia.

Dengan demikian, adalah tugas kita untuk berusaha sekuat tenaga untuk mencari rezeki Allah dengan senantiasa menjalankan perintahnya, dengan tak lupa berdoa.

Surat Al-Baqarah ayat 186:

    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Lalu apakah dengan diam saja rezeki akan datang sesuai dengan taqdir kita?

Allah memberi contoh pada ayat yang mulia: Surat Yassin ayat 47:

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.

Dan Surat AL-Anfaal Ayat 53 (8:53):

    Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Surat Al-Mulk Ayat 15 (67:15):

    Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Dengan demikian, saya berpendapat bahwa didalam Lauh Mahfuz, ditulis tentang segala sesuatu yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu, dengan kata lain adanya hubungan sebab dan akibat. Bukan suatu yang mutlak.

Kita bisa merubah hidup menjadi lebih baik, dengan izin Allah. Karena apa yang kita lakukan, seperti menulis, menggerakkan badan, berjalan, bekerja, berusaha, adalah dengan Seperijinan Allah SWT.

Maka jika Allah memberikannya kepada kita, itu lah Anugerahnya. dan Jika Allah berkenan mencabut, maka itulah Ujiannya.

Makanyalah saya berperinsip bahwa kita tidak boleh menunggu apa takdir kita. Justru Allah sangat mendorong kita untuk berkarya dan berusaha didalam meraih rezekinya, didalam tetap bersemangat dan berkerangka dalam beribadah kepada ALlah SWT.

Categories: My Story

Tagged as:

22 replies »

  1. Uda,
    Setau saya ada hadits nya juga tentang kisah shahabat Rasulullah yang baru pulang dari daerah lain dan mendapati desa asal nya sedang terkena wabah penyakit menular. Kemudian dia (yang memimpin rombongan safar) memutuskan untuk tidak masuk desa nya sampai keadaan membaik.
    Shahabat yang lain bertanya, kenapa tidak masuk ke desa nya ? Bukankah sudah takdir nya memang harus kembali ke desa asal ? Kemudian si pemimpin menjawab :”Kita berpindah dari takdir yang satu ke takdir yang lainnya.” Dan ini dibenarkan oleh Rasulullah.
    Semua hal, termasuk usaha untuk melawan takdir, adalah takdir. Ini rahasia ‘ilmu Allah. Cukuplah kita menerima yang sudah diperintahkan dalam Qur’an dan Sunnah.

    Like

  2. Don,

    Kalau sesuatu itu sdh lewat, baru kita sadari bhw takdir itu ada. Contoh yg paling jelas itu soal menikah saja. Setelah lama menikah baru kita sadari bhw jodoh itu di tangan Allah.
    Tapi sy ada pemikiran begini, tentu yg mengerti mereka yg pernah belajar programming komputer. Takdir Allah itu If-Then-Else nya banyak, bahkan tak hingga. Dan waktu itu adalah milikNya. Shg apapun kebebasan putusan manusia Allah SWT sdh menyediakan jalannya. Berarti siapa bilang manusia tdk punya pilihan ?

    Salam.
    Raldi A. Koestoer

    Like

  3. Pak Raldi,

    Saya lebih setuju dengan pendapat bahwa Allah menyediakan banyak pilihan untuk kita jalani, tinggal kita mau memilih jalan mana.

    Semua kan ada sunatullah nya, ada sebab dan akibat, nah itu yang sudha ditulis di Lahul Maufuz, artinya jika kita kerjakan A, maka hasilnya pasti B, nggak mungkin C. Kalau kita kerjakan D maka hasilnya pasti E.

    Jadi, manusia memang dikasih banyak pilihan dan akal untuk menentukan pilihannya.

    Like

  4. Betul Uda. Nah ketika memilih itu pun adalah takdir. Makanya, akal manusia tidak akan sampai pada ‘ilmu Allah. ‘Ilmu manusia dengan ‘ilmu Allah adalah ibarat setetes air yang jatuh dari jari, yang sebelumnya dicelupkan pada air sungai yang sangat lebar dan deras arusnya (kutipan dari sebuah hadits, silakan di cek kalo sempat.)

    Like

  5. Assalamu’alaikum Pak Donny,

    Ikut nimbrung dikit nih pak, ttg tanggapan pak donny untuk pak Raldi, kayaknya kurang tepat “kalo kita mengerjakan A maka hasilnya B nggak mungkin D”……..sebab kalo hasil, itu mutlak milik Allah SWT. Terserah DIA ingin menentukan apa terhadap usaha kita, nah disitulah baru berperan Tawakkal, pentingnya menyerahkan segala sesuatu (termasuk usaha kita) sama ALLAH SWT.

    Demikian sedikit komment dari saya.
    Matur Nuwun

    Like

  6. sy sangat setuju…thanks atas semua sharingnya…
    Menurut saya, apakah kita sebagai manusia bisa belajar mengikhlaskan ‘n melepaskan apa yan menjd kehendak kita atas semua ketentuan yang telah ditulis dalam Lahul Maufuz… karena terkadang apa yang menurut kita adalah jodoh “n milik kita belumlah tentu menurut ketentuan Allah, walaupun kita sudah bersusah payah untuk berusaha, berdoa bahkan terkadang memaksakan kehendak kita pada Allah…

    Like

  7. aku cuma mau memetik hikmah dari uraian tadi, bahwa kita cuma melakukan apa yg Allah garis kan dalam lauhul mahfuz, dimana kitab itu mempertegas tentang penciptaan manusia yg sekedar ciptaan,gak lebih gak kurang. hanya kita saja yg selalu merasa mulia, karna iblis dan malaikat sujud dihadapan adam, saya cuma mau berpendapat sudah bukan saatnya kita merasa kecilkarna kita memang kecil, sudah saatnya kita merasa kotor karna kemana mana membawa kotoran,sudah saatnya kita tunduk karna kita memang gak pernah tinggi! serta sekaranglah kita jadi air yg mengalir kebawah, menjadi cecak yg memakan nyamuk, menjadi lebah yg menghasilkan madu,menjadi awan yg menimbulkan hujan.kita cuma mahluk dari sekian mahluk yg Allah ciptakan, cuma ciptaan.

    Like

  8. Alhamdulillah, saya setuju tulisan di atas, bagi saudara/teman yg programmer komputer, dia lebih paham lagi kalo dianalogikan ttg TAKDIR ini.

    Dalam komputer sudah disiapkan program basic (Programming Language ), analoginya Allah sudah menyiapkannya di Lahul Maufuz. Nah, bagaimana menggunakan program itu utk membuat aplikasi lain (usaha kehidupan ), kita harus banyak belajar & berusaha tanpa batasan, karena ALLah sudah berikan dasarnya. Kita berhak membuat aplikasi apapun yg kita butuhkan dalam hidup ini. Kita berhak menentukan apa kebutuhan kita, asalkan tidak keluar dari karidor hukum Allah. Kalo keluar kita dapat ujian, teguran, cobaan, dsb.

    Hanya itu pendapat saya. Siapa menyusul ?

    Like

  9. Saya sangat setuju dengan pendapat mas Elim K. Lauhul mahfudz itu bukan suatu ketetapan atas seseorang atau kejadian, tapi sebenarnya suatu ketetapan atas hukum sebab akibat yang menjadi hukum yang berlaku bagi alam semesta, contoh sederhananya ketetapan bahwa air mengalir ketempat yang lebih rendah, benda jatuh karena adanya gaya grafitasi, dan hukum hukum fisika, kimia maupun biologi lainnya yang pernah kita pelajari dulu. Kebaikan akan mendatangkan kebaikan dan pahala, sebaliknya keburukan akan mendatangkan keburukan dan dosa, dst. Nah hukum hukum tersebut sudah ditetapkan oleh Allah sebagai hukum yang berlaku dialam semesta dan apapun yang ada dialam semesta ini terikat dan tunduk atas hukum itu.
    suatu peristiwa bencana terjadi karena ada proses sebab akibat sebelumnya yg kemudian memunculkan bencana itu. Salah satu sebab itu bisa saja trigger nya dari manusia.
    Itulah Lauhul mahfudz menurut saya.
    Manusia kemudian diberikan kebebasan untuk memilih jalannya dengan keterikatan dan tunduk atas hukum hukum tersebut. Jalan lurus maka kebaikanlah yang akan diperoleh dan jalan sesat maka keburukanlah yang diperoleh.

    Like

  10. ..insyallah dgn izinNya..terimakasih atas ruangan ini bisa menimba pegetahuan tidak rasmi seperti mengenal takdir dan seumpamanya…saya sangat setuju bahawa ada takdir yg dah diazalikan dan ada pula takdir yang masih bloleh diubah setelah dengan usaha2nya, dan demikian jua lah dgn soal2 yg lain..pokoknya kita bisa memilih apa saja dorongan hati kerana hukum hakam sudah ada sebagai penyuluh..jika tidak jatuh harus mungkin makruh atau sunat atau haram atau wajib….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.