Life in The UK

Islam di London (part-1)

Islam di London dan Inggris secara umum, agak sedikit berbeda dengan Islam di Indonesia. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Kenapa begitu?

Mari kita urut satu satu.

Cara Sholat:

Cara sholat, secara umum hampir sama. Hanya saja, cara duduk tasyahud terakhirnya yang beda antara kita di Indonesia dengan saudara kita dari India, Bangladesh, Pakistan, Mesir, Libya maupun Saudi Arabia sendiri, yang banyak saya jumpai di London ini.

Kalau kita, duduk tasyahud terakhir, raka’at ke dua untuk sholat subuh, dan raka’at ke-empat untuk sholat Zuhur, Asyar, dan Isya, adalah sedemikian rupa sehingga kita duduk jadi agak miring ke kiri, dengan kepala miring ke kanan (sebagai penyeimbang, saya rasa), karena kaki kiri akan meyilang dibawah kaki kanan.

Mereka, orang Islam dari India, Pakistan, dll itu, nggak begitu. Baik duduk tasyahud pertama ataupun terakhir ataupun duduk antara dua sujud, sama saja.

Jadi, kalau kita pergi sholat ke mesjid di London atau UK misalnya, karena hampir tidak ada mesjid yang dimiliki dan dijalankan oleh orang Indonesia, maka akan kita temui sholat seperti itu.

Kita boleh saja sih duduk tasyahud terakhir seperti yang kita yakini dan kerjkan selama ini, tapi jika lagi berjamaah, dan kita pas ditengah, sedangkan mereka biasanya jamaahnya rapat dan padat, maka bisa dipastikan akan kesulitan untuk dudk seperti itu.

Saya pernah dan sering tentu saja, mengalami hal itu. Akhirnya, saya pun duduk seperti mereka.

Ternyata, memang paham yang kita anut di Indonesia dari mahzabnya Syafii, sama halnya dengan di Mesir, walaupun nggak semua orang Mesir.

Di Kantor Bechtel, ada temen saya, orang Saudi Aramco, dan orang Mesir, saya ajak diskusi seperti itu. Dia bilang cara duduk saya yang miring ke kiri itu adalah salah, yang benar adalah yang biasa saja, seperti duduk antara dua sujud.

Tapi, karena ini hanya masalah fiqih, jadinya nggak begitu perlu dirisaukan.

Saya hanya berfikir, kok bisa gitu ya. Artinya, para penganut mahzab Syafii akan tetap mengikuti apa yang diajarkan, sementara penganut mahzab lain, pun begitu. Kagak ada yang mau bertukar mahzab, misalnya, atau memadukan biar dapat yang terbaik.

tapi biarlah, toh semuanya berlindung kepada kata-kata “hebat”, yaitu: “perbedaan itu adalah rahmat dan berkah”, walaupun saya nggak begitu setuju. Lha iya, kenapa nggak disatuin aja, kan bisa saling melengkapi. Anyway, let’s go on.

Satu lagi, setiap kotbah Jumat, mesti berbahasa Arab. Mesti dan harus alias wajib. Pendek saja, pokoknya memenuhi RUKUN nya. Nggak peduli jemaahnya ngerti atau nggak. Yang jelas begitulah ajarannya, katanya.

Hanya saja, sebelum kotbah resmi dan sebelum azan dikumandangkan, maka diadakan kotbah pengantar dalam bahasa Inggris, atau bahasa Urdhu. Ini diluar kerangka sholat jumat.

Saya tanya juga sama teman saya tadi itu, dia bilang, adalah wajib hukumnya untuk berkotbah untuk sholat jumat dalam bahasa ARAB.

Lha, wajib kana berarti kalau ditinggalkan adalah dosa, artinya lagi sholat jumat jadi tidak sah, karena Kotbah Jumat adalah bagian dari sholat itu sendiri.

Lalu bagaimana di Indonesia, yang hampir 99% menggunakan bahasa Indonesia, bahkan ada bahasa Jawa, Sunda.

Wah, nggak ngerti saya itu. Mungkin MUI sudah mengeluarkan fatwa kali.

(to be continued..)

Categories: Life in The UK

7 replies »

  1. maaf, ada hadis yang mengatakan perbedaan itu rahmat, tapi hadis itu lemah… hadis yang jahil. engga usah dibahas dalam dalam sih. cuma ngasi tau ajah.

    Semoga tetap istiqomah

    Like

  2. Duduk seperti tasyahud awal pada tasyahud akhir, memang ada perbedaan pendapat. Tapi khusus hanya untuk sholat yang dua rakaat saja. (Shubuh atau shalat sunat/taththowwu’). Sedangkan untuk tiga dan empat rakaat, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama ahli hadits.
    Untuk sholat jamaah, kita harus mengikuti imam sholat, meskipun kita berbeda pendapat (sesuai ilmu yang telah dipelajari.) Karena ada hadits nya yang inti nya : jika makmum benar dan imam benar, pahala untuk keduanya. jika makmum benar dan imam salah, maka pahala untuk makmum dan dosa untuk imam. Melihat jamaah sholat yang dihadiri uda Don adalah mayoritas menggunakan cara yang diceritakan oleh uda. Kemungkinan besar imam nya juga demikian.
    Sekedar info.

    Like

  3. Salam kenal mas!
    kalo saya alami dan juga pernah ngobrol dengan mereka,memang iya ada ada perbedaan dalam duduk tasyahud khir. Dan herannya hanya orang indo dan malay yang model duduknya yang berbeda, sedang cara duduk org2 arab sana dan orang eropa sama. akhirnya karena kelamaan ikut cara mereka, balik ke indo saya yang paling beda sendiri.
    Ya begiulah hidup.

    Like

  4. Kalau kita sudah bisa manage perbedaan urusan fiqh, kemungkinan lebih fokus untuk kemajuan dan kemaslahatan umat karena konflik kecil internal akan berkurang.
    Ilmu untuk manage perbedaan ini sederhana banget yaitu ‘kembalikan kepada Allah dan RasulNya’, praktiknya sulit dilaksanakan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.