Di jaman sekarang, kalau beli sesuatu, pasti ngutang, misalnya kredit rumah, kredit mobil, belanja pakai kartu kredit.

Pernahkah terpikirkan kalau saja suatu saat (dan pasti itu kan?) kita, sebagai kepala rumah tangga yang sekaligus penumpu keluarga alis yang menjadi andalan keluarga dalam bekerja, sekaligus yang menjadi terutang dengan segala macam kredit tadi, tiba-tiba meninggal?

Meninggal, pasti. Kapan? Nggak tahu kan? Nah, kalau saat ini, kita sedang nyicil rumah, nyicil mobil, punya kartu kredit, tiba-tiba “tewas” dan meninggalkan anak dan istri, gimana ayo..?

Bukan nakutin, tapi memikirkan saja.

Ad dua hal memang yang perlu diperhatikan. Satu, dari sisi “kita” yang mati, yang akan menghadap Allah Sang Pencipta, yang pasti saja akan dimintai pertanggungjawaban atas sepak terjang kota didunia ini. Itu mah urusan masing-masing.

Yang kedua, ini yang paling penting bagi yang ditinggalkan, yaitu anak-anak dan istri.

Anak-anak dan Istri, yang ditinggal sendiri, sambil meninggalkan hutang KPR rumah, Mobil, kartu kredit. Belum lagi Istri akan memikirkan bagaimana hidup nantinya serta masa depan anak-anak.

Di Indonesia, mungkin masih bisa mengandalkan orang tua atau adik atau kakak. Tapi, apa iya mereka bisa bantu maksimal.

Dulu, di Jakarta, saya ngak pernah kepikiran hal tersebut.

Sekarang, ketika anak-anak mulai besar, kemudian saya juga mulai kredit rumah di sini, saya pun mulai mikir.

Soalnya disini, hal-hal seperti itu sudah jadi biasa. Misalnya, saya sering di tanyain sama Bank saya masalah penulisan Wasiat. Busyet, gua bilang, mau doain gua mati cepet nih.

Tapi, yen tak pikir-pikir, bener juga.

Sekarang, jika cerita saya diatas terjadi, gimana anak dan istri di sini. Siapa yang akan bayarin Kredit rumah, atau kartu kredit, dan yang penting lagi gimana mereka dapatin duit buat hidup jika saya mati hari ini?

Persiapan perlu. Walaupun kita percaya bahwa Allah akan menjaga anak-anak dan istri kita, toh nggaka da salahnya kalau kita juga bersiap-siap.

Makanya, saya pun menghubungi Perusahaan Asuransi, dan membeli polis yang jika saya mati, maka mrumah yang saya cicil tiap bulan akan segera dibayar lunas plus ada uang cadangan untuk istri dan anak-anak. Besarnya, tergantung berapa kita sanggup.

Jadi, begitu saya “tiada”, maka diharapkan, Insya Allah, anak-anak dan istri tidak terlantar dan tidak teraniaya, dan yang penting tidak menjadi beban orang lain.

1 Comment »

  1. Sungguh saya terharu + kagum dengan perjalan karier bapak beserta keluarga, tetep ber karya meskipun di negri orang tanpa meninggalkan adat indonesia dan yang terpenting tetap berpedoman pada islam saya salut.saya ingin sekali menapaki dunia eropa tanpa mengurangi ciri khas saya sebagai orang indonesia dan agama saya yaitu islam aminnnnnn bapak saya boleh bertanya apakah juga sulit untuk tenga perawat bekerja disana , karna saya ber keinginan besar sekali untuk dapat berkarier di eropa trimakasih mohon solusinya dan bila bapk tdk keberatan mhn saya di emial di alamt email saya “revanurse@gmail.com”trimaksih banyak bapak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.