Life in The UK

Anak-anak SD di Inggris: Stress-Free

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara sistem pendiidkan di Indonesia dengan di Inggris. Secara garis besar adalah siswa sekolah dasar di Inggris tidak mengenal adanya ujian akhir kenaikan kelas. Ada memang ulangan mingguan. Tapi mereka tidak pernah menerima rapor setiap akhir tahun ajaran.

Yang ada hanyalah secarik kertas berisi laporan perkembangan si anak selama term, yang tertera dalam bentuk tulisan (layaknya report dalam kerjaan kita), yang kemudian ditutup oleh dua kalimat dari Head Master yang menyimpulkan apa kata guru kelasnya.

Mata pelajaran yang “dinilai” pun sedikit sekali, yaitu “Matematik, Bahasa Inggris” dengan tambahan ICT, History, Science. Nilanya jangan diharap akan keluar angka 7, 8 atau 9 ataupun A, B, C. Bukan. BUkan begitu.

Yang keluar adalah “kata-kata” seperti “good progress, excellent in literacy”, something like that.

Nanti, di salahsatu pojok laporan ada menunjukan ada di Level berapa si anak. Level disini bukan berarti ranking didalam kelas, melainkan menunjukan tingkat kemampuan si Anak dibandingkan dengan ekspektasi Sekolah ataupun juga sesuai dengan National Standard.

Misalnya, untuk kelas 2, Level yang diharapkan adalah Level 2B, artinya anak kita mempunyai kemampuan sesuai dengan target Nasional. Jika dapat Level 2C maka berarti dibawah rata-rata, dan 2A berarti diatas rata-rata.

Jika berada dibawah rata-rata, dalam laporan tersebut akan diberikan target ke depan yang harus dilakukan dan dicapai oleh si Anak. Jika diatas rata-rata, maka akan dijaga momentum tersebut dengan memberikan porsi yang lebih.

Apapun juga levelnya, didalam report tersebut ditulis apa program buat anak kita di term kedepan. Apa saja yang mesti diperkuat dan apa yang diharapkan dukungan dari orang tua di rumah.

Test atau ujian semester bagi anak-anak adalah sebisa mungkin dihindarkan, karena mereka bilang, anak-anak SD tersebut, belumlah siap menghadapi “pressure” didalam ujian.

Test hanya diberlakukan pada anak-anak kelas 2 (menjelang selesai, yaitu bulan May) dan anak kelas 6. Tapi, untuk anak kelas 2, test yang diberikan pun diusahakan diberikanpada situasi yang tidak menekan si anak tersebut, artinya dibuat kesan pada si anak bahwa dia bukan sedang di test.

Apa tujuannya test? Untuk mengetahui level si anak setelah belajar selama 2 tahun. Hal ini juga menjadi semacam ukuran keberhasilan sekolah didalam mendidik anak muridnya.

Tapi, apapun hasilnya nggak akan membuat si anak jadi tinggal kelas misalnya.

Pokoknya, setiap September (tahun ajaran baru), mereke otomatis akan naik kelas secara berrombongan.

Anak-anak SD di Inggris adalah “Stress-Free”. Homework alias PR hanya sekali seminggu untuk Matematik, dan sekali seminggu untuk Bahasa Inggris. Itupun dikit amat. Ada project memang untuk anak kelas 4 keatas, membuat rangkuman cerita dari buku sejarah.

Saya, dan teman saya yang orang Korea, sepakat mengatakan bahwa di Inggris, anak-anak tidak disuruh belajar, tapi disuruh bermain dan bermain sambil belajar.

Kids, let’s play and enjoy your live.

Disetiap sekolah ada playground yang besar, dan ada waktu disediakan untuk bermain dibawah pengawasan guru, dari sisi safety tentunya.

Pas makan siang, yang dibagi dua berdasarkan kelas, misalnya kelas 1 – 3, istirahat duluan, kemudian yang lain istirahat belakangan. Pada jam istirahat tersebut, mereka makan bareng di hall, setelah itu bermain di playground, baru kemudian masuk kelas lagi.

Ada yang lebih lucu lagi menurut saya.

Pelajar kelas 6, yang akan segera menuju kelas 7 alias Secondary School, yang umumnya harus pindah sekolah, sudah harus mendaftar ke sekolah SMP tersebut pada saat dia baru mulai belajar di kelas 6.

Contohnya, anak saya yang pertama, September ini akan mulai kelas 6. Tapi, sekarang saya sudah harus mulai mencari SMP mana yang akan dia tuju nantinya.

Ada dua jenis sekolah Secondary disini, yaitu Grammar School dan Non Grammar School.

Kedua-duanya mengajarkan mata pelajaran yang sama, hanya bedanya di Grammar School siswanya lebih sedikit per kelasnya, dan umumnya adalah anak-anak yang pintar.

Seleksi untuk memasuki grammar school dilalukan melalui test baik non verbal maupun verbal, dan dilakuka pada bulan oktober/november dimana si anak baru saja mulai kelas 6.

Pada bukan January atau February tahun depannya, si anak sudah mendapatkan pemberitahuan dimana dia akan bersekolah SMP bulan September nya. Padahal dia masih kelas 6, dan belum selesai.

Kalau di kita, mereka baru mikirin mau SMP dimana jika sudah selesai EBTANAS.

Disini, anak-anak dan orang tuanya bakalan deg-degan pada November sampai January.

Jika nggak diterima disekolah yang diinginkan, maka pemerintahnya akan mencarikan sekolah buat dia. Pkoknya dia pasti akan mendapatkan sekolah, walaupun mungkin bukan disekolah favorite misalnya.

Soalnya kalau mau yang favorite mesti lewat test. Apakah mau SMP yang bagus, tergantung kemapuan si anak ketika duduk test seleksi.

Lain negara lain pula caranya menyiapkan kader bangsanya.

Mana yang lebih baik?

Semuanya akan terlihat ketika mereka memasuki bangku kuliah.

Tapi, kalau saya lihat, secara umum, anak-anak disini nggak banyak mendapatkan tekanan selama bersekolah. Sekolah bagi mereka adalah tempat untuk bermain, berkreasi, berdiskusi dan terkahir, bermain.

Apakah SMP masih tetap begitu? Menarik dilihat nantinya ketika anak saya menginjak SMP atau Year-7 tahun depan.

Tapi, kondisi ini sebenarnya memaksa kita orang tua meluangkan waktu untuk memperhatikan perkembangan anak serta mengajarkan mereka dirumah.

Kita harus senantiasa menanyakan dan berdiskusi dengan mereka seperti bagaimana keadaan dan suasana mereka di sekolah, apa yang mereka pelajari hari itu, dan apa kesulitan yang mungkin dihadapi.

Categories: Life in The UK

11 replies »

  1. di italia anak sd juga lebih banyak bermain. pelajaran seperti matematika selalu dibawakan dengan metode cerita sebelum memasuki metode “lambang”. mereka lebih didorong pada inovasi bukan pada hafalan.

    jadi kalau ada kompetisi ala cerdas cermat, anak sd di indonesia akan selalu menang. sementara kalau disuruh berinovasi saya kira anak sd di italia lebih baik.

    bisa dibuktikan dengan adanya juara di olimpiade fisika adalah anak indonesia (atau asia ?), namun inovasi teknologi datang tidak dari sana….. hik….. hik….

    Like

  2. Betul Mas Hadi,

    Makanya anak-anak dari Indonesia, Jepang, Korea dan juga China, lebih banyak berhasil dibelakang layar, seperti jadi jagoan di Laboratorium, atau jago Computer.

    Like

  3. tulisan mas donny ini enak betul bacanya, walau belum pernah keluar negeri tapi rasanya saya lagi di wimbledon,,hihi. dulu saya gak percaya ada model pendidikan seprti yg anda ceritakan, tapi setelah baca tulisan mas saya kok 85% percaya, nah yang 15 % perlu survey kesana. jadi ya cuma 85% aja, thanks untuk opini bagusnya

    Like

  4. Assalammu’alaikum ..! aduuhhh….tulisan mas donni keren banget,aku jadi pengen ikut nibrung…mas donni,untuk biaya sekolah sd di inggris mahal nggak ya..???kalo boleh tau kira2 berapa’an ya mas..?thx ya mas

    Like

  5. Menarik skali. Saya ingin tanya mengernai pendidikan di inggris.
    Di sana, pendidikannya seperti apa? Anak umur brapa diwajibkan SD, SMP, SMA dan kuliah. Mohon di jelaskan. Karena saya bingung dgn konsep pendidikan di inggris. Jika di indonesia umur 11 taun masih SD, di inggris udah secondary school. Nah, lho? Mhn penjelasannya. Pertanyaan penting saya, usia brapa di inggris anak2 sudah kuliah? Akan sangat membantu saya. Trima kasih banyak!

    Like

  6. Maaf mau tanya nih, barangkali mengetahui. kalau kita datangnya sekitar bulan april anak saya bisa masuk sd nggak atau harus nunggu bulan september. Anak sy sekarang kelas 1 dan 3 sd. Rencana mau ke inggris bareng suami sekitar bln april. Terimaksih sebelumnya.

    Like

  7. Mau nanyang dong….kl pindah k uk bln agustus….Kira anak sy els 3 Dan 6 ……kl mau pindah lg jkt…tp ga Ada nem kls 6….kira2 bias ga msk smp jkt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.