My Story

Kemana Setelah Lepas SMA?

Siang itu suasana sangatlah meriah sekali. Setiap sudut sekolah pastilah dihiasi oleh wajah-wajah sumringah, bahagia bercampur sedikit sedih. Betapa tidak. Hari ini pengumuman lulus-lulusan. Lulus SMA lagi.

Senangnya, kita akan segera melepaskan baju seragam putih-abu-abu dan berganti dengan baju seragam tak seragam. Apa coba.

Sedihnya, selesai sudah gelar remaja ting-ting. Selesai sudah masa remaja yang mungkin adalah masa-masa yang paling indah, yang tak akan mudah dilupakan.

Habis ini, selepas ini, sudah nggak laku lagi menyanyikan lagu Gita Cinta dari SMA. Yang sekarang mulai dinyanyikan adalah “Selamat Jalan Kekasih” nya Chrisye.

Atau yang agak sedih, “merpati putih”, Almarhum Chrisye juga.

Saya termasuk yang senang kedua lagu tersebut.

Hari itu, hari terakhir di sekolah, masih terbayang sampai saat ini, suasana detik-detik terakhir di SMA.

Minggu depannya, saya yang diterima melalui program PMDK di Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Indonesia, sudah terbang meninggalkan kota Padang menuju Jakarta, yang terus terang saja, saat itu, bukanlah tujuan utama.

Saya ingat malam itu, lagu yang mengiringi tidur adalah lagunya Phil Collins, “One More Night”.

Hgh.

That’s 22 Years a go. When I was 18 years old.

Mengenang masa lalu adalah bagus juga buat mengingatkan kita akan kehidupan kita. Saat itu, ketika saya sudah pasti diterima di UI, teman-teman sedang sibuk-sibuk nya belajar untuk persiapan Sipenmaru.

Pembicaraan paling hangat waktu itu adalah mau kuliah di mana dan jurusan apa?

Waktu itu, nggak ada pikiran untuk ngambil kuliah “A” biar nantinya bisa kerja di tempat “B”.

Pokoknya jadi Insinyur Mesin atau Insinyur Sipil dulu, kerja urusan nanti.

Nggak salah juga sih. Toh buktinya, lulus dari UI bisa langsung kerja.

Tapi, itu dulu mas…

Jaman sekarang, yang jumlah lulusan makin banyak sedangkan jumlah lowongan bukan nya bertambah banyak, persaingan makin ketat dan ketat alias super ketat.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan orang tua untuk mengarahkan anaknya?

Saya saat ini termasuk orang tua, yang sudah harus memikirkan kemana nantinya anak saya mau diarahkan. Masih lama memang. Anak saya yang paling besar baru 10 tahun. Perempuan.

Tapi, nggak ada salahnya kan berencana dari jauh-jauh hari.

Ok, kira-kira kemana anak-anakku mau diarahkan untuk masa depan mereka?

Good question but not an easy answer.

Orang bilang, lihat dulu bakat anaknya.

Saya bilang, nggak usah pakai acara ngelihat bakat. Kelamaan.

Biasanya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.

Karena saya lulusan Engineering, mungkin nggak salah kalau saya mengarahkan anak-anak saya juga masuk Engineering. Yang jelas, saya nggak kebayang anak saya bakalan masuk Kedokteran, yang sudah kuliahnya lama, habis itu, kerjanya nggak kenal waktu lagi. Mungkin karena saya bukan dokter, jadi nggak pede.

Kalau Engineering, pilih Mechanical, Civil. Chemical alias Process gimana? Kalau saya, males belajar kimia, jadi nggak kepikiran masuk jurusan Kimia.

Selain itu Ekonomi juga boleh jadi pilihan. Sebaiknya accounting kali ya. Karena finacial adalah sektor yang nggak pernah habis-habis nya.

Diluar itu, saya memilih Hukum. Hukum International.

Kalau jurusan lain, saya kurang srek. Bukan apa-apa, nanti kalau sudah lulus susah lagi nyari kerja sesuai dengan bidang nya.

Jadi, yang saya lakukan sekarang sama anak-anak adalah memprsiapkan mereka dibidang Matematika dan Bahasa Inggris.

Caranya baik dengan mengirim ke empat les tambahan dan mengajarkan di rumah oleh bapak nya ini.

Iya dong, percuma bapaknya Insinyur kalau nggak bisa dan nggak sempat ngajarin anaknya.

Harus selalu disediakan waktu untuk itu, tekat saya.

Dan jangan lupa, ngajarin anaknya ngaji dan sholat juga.

Jadi, Insya Allah, dunia dapat, akhirat pun dapat, Amiiin.

Categories: My Story

Tagged as:

5 replies »

  1. Wah dah mulai rajin lagi nih nulisnya… Mau sumbang saran, kalau untuk perempuan mungkin mesti agak pilih-pilih di bidang pekerjaan engineering mana yg bisa optimum berkarya… Bukan bermaksud beda2in genre sih, tapi jadi perempuan itu memang berat sih tanggungannya, terutama di keluarga, sehingga kalau bekerja di dunia EPCI bisa double2 beratnya..
    Oia jadi process engineer OK jg tuh mas, banyak process engineer perempuan yang OK2 tuh performance di sini…. Process jg ngga terlalu banyak ke lapangan. Mas Donny kayanya salah deh, di process engineering ngga belajar reaksi kimia banyak2 seperti kimia murni, mereka lebih ke mekanika fluida dan optimasi process. Reaksi kimianya biasanya sudah jadi tinggal pakai saja…

    Like

  2. IT juga termasuk yang mempunyai demand tinggi, tapi seperti yang kita duga, influx dari India besar sekali, serta nggak banyak IT dari Indonesia yang mau expansi ke luar neegri, soalnya mungkin di Indonesia aja mereka sudah sibuk.

    Kalau sudah begitu kan orang malas bergerak dari comfort zone nya.

    Like

  3. “dunia dapat, akhirat pun dapat”,,
    penutup nya touching bgt Pak Don.nice..
    oia perkenalkan sy lulusan dr bandung baru di terima di IKPT,terinspirasi oleh pak Don jadi Piping stress Engineer,hhe
    doanya pak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.