My Story

Nostalgia Masa Kuliah Dulu

Pagi itu saya datang ke kampus agak sedikit beda. Beda dalam penampilan maksudnya. Rambut potong cepak, ala abri, kata orang. Ber celana Jean, sepatu kets, dengan kaos dimasukan kedalam celana. Pokoknya klimis.

“Wah..ini tampang mahasiswa tingkat akhir..TA sudah ditangan” begitu komentar teman-teman.

“Habis ini mau kerja dimana nih..?”

Itu cerita dulu mas. Waktu saya tingkat akhir di Teknik Mesin UI. Dahulu kala itu.

Tapi, mungkin masih bisa di-apply untuk situasi saat ini.

Case:

Masih kuliah. Tingkat akhir. Skripsi atau TA sudah didepan mata, paling tidak sudah ada judulnya. Tinggal nyiapin bahan, studi literature, atau percobaan di lab, whatever.

Lulus sidang sarjana, wisuda, and what next?

Houston, we have a problem.

Syukurnya saya nggak mmenghadapi masalah seperti itu. 6 bulan sebelum lulus, masih sibuk menyiapkan Skripsi, saya melihat pengumuman di papan pengumuman kampus.

Kesempatan bagi Mahasiswa yang sedang menyusun Skripsi
bidang konversi energi, untuk mengambil data di sebuah
perusahaan kontruksi, Jakarta. Hubungi Sekretariat Jurusan

Pas bener sama bidang kite, gumam saya waktu itu. Tanpa pikir pendek, langsung menghubungi sekretariat. Daftar dan langsung disuruh ke lantai 4 gedung Lab Mesin.

Sampai disana, sudah penuh sama teman-teman lainnya. Lho, yang datang kok yang sudah pada lulus sidang? Bukannya ini buat tugas akhir?

Tak peduli. Orang ngisi daftar hadir plus alamat rumah, saya ikut ngisi.

Seminggu kemudian, dipanggil test. Psikotest, bunyi suratnya. Lho, mau nyari data buat TA kok pakai acara psikotest. Apapula ini.

Tapi datang juga. Test. Gampang. Cuma Psikotest.

Eh, lulus. Dari 30-an tinggal 9. 8 Engineer, 1 masih sibuk mau bikin TA, belum mulai malah.

Surat kedua bilang akan ada interview lagi. Ayuh aja. Ditanya soal turbin gas. Yah, ini mah persis Tugas Pilihan kemaren. Lancar aja.

Surat ketiga dipanggil menghadap Manager, diterima katanya.

Disitulah baru saya jelasin sama si Manager.

“Pak, saya itu mendaftar disini mau ngambil data buat Tugas Akhir saya, bukannya mau kerja. Wong saya belum lulus kok”.

“Lho, belum lulus toh” si Managernya kaget. Akhirnya saya jelaskan ke dia latar depan dan belakangnya sehingga saya saat itu duduk didepan dia.

“Nggak apa-apa. Kamu kerja setengah hari, pagi sampai lunch time, setelah lunch time kamu boleh mengerjakan TA di sini.” Si Manager mengambil keputusan.

“Wah yang bener.”

“Ya, tapi gajinya separo ya. Kan belum lulus jadi Insinyur.” Dia tersenyum.

Weleh. boleh lah..lumayan kan, bisa bikin TA, menggunakan fasilitas kantor, digaji lagi.

Sambil becanda saya bilang sama teman kantor: “Pagi, jam 7.30 sampai jam 12, gua kerja, habis makan siang, sorry fren, gua mau ngerjain TA gua, no work, soalnya gaji gua separo elu”

Mereka paling bisanya nyengir.

6 Bulan kemudian, saya pun lulus sidang. Berbekal surat dari kampus, saya pun menghadap si boss dan bilang:

“Saya sudah lulus sidang Pak, jadi statusnya bukanlagi separu kerja separuh mahasiswa. Artinya, gaji full dong ya”

Dia tersenyum, membaca surat dari kampus, langsung menelpon personalia.

The next payday, I had got my first full salary as Engineer.

What a life. a wonderful life. Thank God.

Categories: My Story

Tagged as:

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.