My Story

Made in Indonesia bertebaran di Inggris: sedih atau bangga?

Rekan Migas,

Kalau kita punya kesempatan shopping di luar negeri, baik yang “window shopping” maupun yang “beneran beli”, sering kita menemukan sepatu, baju atau barang konsumtif lainnya bertuliskan “Made in Indonesia”.

Biasanya reaksi kita: “yah, jauh-jauh ke luar negeri masak belinya buatan Indonesia” barangkali begitu kurang lebih.

Tapi kalau kita berpikir lebih jauh, sebenarnya ada perasaan sedih dalam hati. Kalau bangga karena ada produk Indonesia yang masuk ke Inggris atau Eropa, mungkin nggak terlalu lah.

Wong ibaratnya cuma sepatu atau baju, yang “kita” notabene tak lebih dari “tukang jahit” saja, disain maupun bentuk sudah dari “sononya”.

Sedihnya adalah lebih besar.

Baju ataupun Sepatu itu adalah buatan buruh Indonesia yang dibayar sangat murah dan bekerja dikondisi yang sangat memprihatinkan, seperti “long hours standing under no air conditioning” .

Lalu siapa yang paling diuntungkan? Adalah pengusaha yang punya perusahaan itulah yang paling beruntung. Kenapa?

Ceritanya begini. Barang, baik sepatu, baju atau apapun juga, jika diperuntukan untuk “export” dan menggunakan bahan “import”, maka si perusahaan akan dibebaskan dari bea masuk bahan baku import. Dengan catatan tidak boleh dijual di pasaran Indonesia.

Alhasil, pengusaha mendapatkan bahan baku bebas bea masuk, bayar gaji buruh murah, listrik juga nggak mahal amat, kemudian dapat kontrak besar dalam US Dollar, jadilah dia salah seorang terkaya di Indonesia.

Contoh terbaru adalah Siti Hartati Murdaya, pemilik licensi sepatu bermerek Nike, yang mendapat kontrak 10 juta pasang sepatu per tahun dari Nike yang bernilai Rp 1 Trilliun, dan sudah berlangsung belasan tahun.

Hal ini langsung membuat dia bertengger di urutan 16 terkaya di Indonesia dengan kekayaan US$430 Juta atau sekitar Rp 3.8 Trilliun (lihat Tempo terbaru hari ini).

Dia kaya sih memang bukan urusan kita, tapi agak banyak perasaan tidak enaknya melihat dia mendapatkan kekayaan itu, sementara “buruh yang membuat dia kaya” (mereka yang bekerja kan?) hidupnya masih berada di garis kemiskinan dengan UMR nya.

Saya tahu betul kehidupan buruh tersebut, karena di Jakarta dulu, setiap menuju kantor selalu melewati “kawasan berikat (bonded area)”, plus tayangan di youtube (dari link yang dulu rekan Migas sempat sebarkan) tentang suasana dan kondisi pekerjaan buruh tersebut, membuat perasaan campur aduk, antara marah dan sedih.

Mungkin itulah apa yang dinamakan dampak dari globalisasi, dimana pemilik “Capital” berkuasa terhadap yang nggak punya duit. Dan hal itu sepertinya tidak memandang suku bangsa maupun agama.

Categories: My Story

Tagged as:

2 replies »

  1. Berarti beliau diwajibkan oleh Sang Kuasa, USD10,75juta per tahun untuk bayar zakat……mmmm…….seharusnya karyawan beliau bisa lebih baik….
    Dari USD10,75jt, 50% untuk karyawannya atau sekitar USD5,35jt, misal karyawannya ada 3000 orang, per orang dapet USD1790, dari 3000 orang itu bayar zakat lagi, bisa terkumpul USD134rb…
    dari USD134rb di buat perusahaan yang lainnya…
    insyaAllah makmur….

    Like

  2. Masalahnya…. Hartati Murdaya itu Buddha, bukan Muslimah… he he he..

    Saya dulu pernah studi banding di pabrik garment Pan Brother Tex (entah masih ada atau tidak) yang memproduksi kaus olahraga merk Adidas (ada merk-merk lainnya tapi saya lupa). Dari manajer nya, terlihat bahwa mutu kaus-2 tersebut sangat dijaga. QC nya juga cermat dalam melihat hasil kaus-2 tersebut yang akan diekspor ke negara pemesannya. Ada hasil-2 produksi tadi yang tidak OK, dan dilempar ke gudang khusus (mungkin dari sini secara gelap, dijual kembali di Jakarta lewat Factory Outlet Store.
    Dari yang saya bandingkan, ternyata mutu hasil olahan tangan org Indonesia sangat baik, walau ia cuma lulusan SD atau SMP. Dan yang di-reject oleh QC adalah kaus yang hanya satu titik benang berjarak satu atau dua milimeter yang keluar dari sambungan kaus. ccckk..cckk..
    Coba saja lihat produksi dari India, China atau Sri Lanka yg pastilah jauh dari mutu karya buruh Indonesia tersebut. Dan ini juga ternyata melanda bidang oil & gas. Apa benar ? Mungkin pak Donny bisa membuktikannya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.